BOP Berkeadilan, Adilkah?

3 05 2009

Bagaimana keadilan bisa ditegakkan jika panitia BOP tidak dapat melihat dan menilai secara jelas mana mahasiswa yang benar-benar membutuhkan bantuan dan mana yang seharusnya tidak butuh? Mana mahasiswa yang “benar-benar” tidak mampu dan mana yang sebenarnya mampu?
Defitra Nanda

Suatu hal yang sangat menggemparkan ketika Universitas Indonesia menaikkan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) sehingga para mahasiswanya wajib membayar sebesar 7,5 juta rupiah setiap semesternya yang diberlakukan sejak tahun 2008, jumlah itu merupakan 5 kali lipat dari besaran BOP sebelumnya. Namun, dengan adanya kebijakan baru tersebut, diberlakukan pula sistem yang dinamakan BOP Berkeadilan. Hal ini didukung dengan dikeluarkannya SK Rektor UI No. 432B tahun 2008 terutama pada Pasal 2 yang dikatakan bahwa pembebanan besaran BOP per semester berkisar antara Rp. 100.000,-(seratus ribu rupiah) hingga 5 juta rupiah untuk rumpun ilmu sosial dan humaniora, dan antara 100.000,-(seratus ribu rupiah) hingga 7,5 juta untuk rumpun kesehatan dan rumpun sains dan teknologi. Read the rest of this entry »





poems

18 03 2009

Cinta…

semut dan gula…

warna sirna menerpa hati…

ku tak tahu apa yang terjadi…

ku tak bisa melihat di sisi gelapnya hati…

ku bertanya Read the rest of this entry »





muhammad itu kayak apa ya???

18 03 2009

Making Rasulullah SAW in your heart

Hai sahabat-sahabatku satu barisan. Ini adalah sepucuk surat dari darah muslim yang sangat ingin digolongkan sebagai kekasih Rasulullah, dan engkau sahabatku akan segera menjadi penerima syafaat tersebut. Simaklah!

Hei hei hei. Ada yang bilang dalam lagunya, “You will be my heartâ€. Tapi Rasulullah SAW akan mengatakan kepada kita, “Tidak hanya hatiku yang kau dapat, iman yang sempurna kan kau raihâ€. Hal ini dapat kita lihat dalam sabdanya, yaitu: “ Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia menjadikan aku yang lebih dicintainya daripada orang tua dan anaknya sendiri.â€(H.R. Muslim).

Waduh, gue bingung nih gimana ya caranya mencintai Rasulullah SAW? Nah, ada pepatah yang mengatakan bahwa “ Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cintaâ€. Jadi, kenali dulu karakteristik Rasulullah SAW.

Wah, Rasulullah SAW itu gimana ya? Let’s begin the point. Trust me, it works. Read the rest of this entry »





ada buku bagus ne…

21 03 2009

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sinopsis buku
Judul buku : The Winning Generation, Mengungkap Rahasia Generasi Pemenang
Pengarang : DR. Sayyid Muhammad Nuh
Penerbit : Uswah

Buku ini sekilas secara umum menjelaskan atau lebih tepatnya menceritakan bagaimana para sahabat r.a. dalam menegakkan syariat Islam di bawah naungan Rasulullah SAW. Pengorbanan demi pengorbanan mereka curahkan hanya untuk berjuang untuk meneruskan dakwah Rasul SAW. Hal inilah yang membuat Islam dapat berkembang hingga meruntuhkan kekasairan Romawi yang tergolong kuat ketika itu. Dengan pencapaian mereka inilah makanya sang penulis menyebut mereka dengan sebutan Generasi Pemenang.
Di dalam buku ini diceritakan 4 topik pembahasan yaitu,
1. persaksian untuk generasi pemenang,
2. karakter pemenang generasi sahabat,
3. karakter sahabat menurut musuh Islam,
4. dan belajar dari generasi sahabat

Salah satu dari karakter pemenang generasi sahabat tadi adalah “Mencintai Persatuan dan Kesatuan”. Para sahabt paham betul bahwa untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT dan bantuan-Nya mesti ada persatuan dan kesatuan. Untuk itulah, mereka sangat mencintai persatuan dan kesatuan. Pemahaman mereka ini didasarkan pada:

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali agama Allah dan janganlah kamu bercerai berai”(Q. S. Ali Imran: 103)
disamping itu, firman Allah lainnya yang menjadikan landasan bagi mereka adalah:
 Al-Maidah : 2
 Ali Imran: 105-107
Selain itu mereka juga berpegang pada hadits Rasulullah SAW,yang artinya:
“ Jangan sekali-kali bercerai-berai. Kalian wajib bersatu. Karena setan lebih dekat kepada seseorang yang menyendiri, daripada kepada dua orang.”

Beberapa generasi pemenang itu, berkata:
 Utsman r.a. : ”Perselisihan adalah sesuatu yang terburuk”
 Abu Dzar r.a. : “Perselisihan itu lebih berat”
 Imam Ali r.a. : “Lakukan seperti kalian telah melakukannya. Sesungguhnya saya benar-benar akan memerangi perselisihan hingga orang-orang bersatu atau saya mati seperti sahabat-sahabatku.”
“Persatuan adalah bergabung dengan pengikut kebenaran walaupun mereka sedikit dan perpecahan adalah bergabung dengan pengikut kebatilan meskipun mereka banyak”

Dengan kata lain, buku menegaskan kepada kita bahwa apabila kita ingin menjadi generasi pemenang, generasi yang menang atas musuh-musuh Islam bila kita memperhatikan masalah persatuan dan kesatuan (ukhuwah Islamiyah).
Demikian segelintir yang dapat saya sampaikan, Jazakumullahakatsiran…

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wa barakatuh….





fakta baru!!!

21 03 2009

Komputer Mempengaruhi Mata Anda


K

enalkah Anda dengan komputer? Hal ini tentunya bukanlah pertanyaan yang sulit lagi bagi kita umumnya. Komputer dengan perangkatnya telah menemani keseharian kehidupan di banyak tempat di dunia ini. Apalagi dengan adanya fasilitas yang bernama internet. Fasilitas ini memungkinkan kita untuk saling bertukar informasi, mencari informasi, bertukar pendapat, bahkan menjalin hubungan baik dengan orang lain yang berada sangat jauh dari kita. Seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang akhir–akhir ini sebagai tuntutan globalisasi mengharuskan seseorang untuk selalu mendapat informasi mutakhir, baik melalui media elektronik, media massa, internet serta penggunaan komputer yang sangat luas


.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan internet di dunia ini lebih dari 1 milyar orang. Hal itu dapat dilihat dari tabel berikut ini,


Sementara itu, Tim Computer Network ITB pada tahun 1996 mencatat jumlah pemakai internet di Indonesia mencapai 25.000 – 30.000 orang. Jumlah itu meningkat menjadi ± 800 ribu orang pada tahun 1999 (Priyatmo, Kompas 12 Maret 2000). Menurut data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), jumlah tersebut meningkat tajam menjadi sekitar 2 juta orang pada akhir tahun 2000 (Bisnis Indonesia, 4 Februari 2002). Pada akhir 2006, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 18 juta orang. Sedangkan pada akhir tahun 2008, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 25 juta orang. Dan jumlah ini akan terus melonjak, diperkirakan mencapai 60 juta pengguna pada tahun 2010 (www.republika.co.id, 1 Maret 2007).

Namun, di balik pesatnya perkembangan jumlah pengguna komputer tersebut, terkadang kita lupa akan dampak negatif apabila kita menggunakan komputer terlalu lama. Dampak negatif tersebut terutama pada kesehatan kita yaitu gangguan pada penglihatan. Beberapa gejala pada mata akibat penggunaan komputer telah ditemukan dan penyebab utamanya adalah radiasi dari monitor komputer itu sendiri. Gejala–gejala yang dapat terjadi pada mata adalah kelelahan pada mata yang dapat mencapai 75 %–90 % yang dilaporkan WHO, mata kering, sakit kepala, kabur melihat dekat secara periodik, kadang–kadang kabur melihat jauh, mata merah, rasa panas, silau, pemakaian lensa kontak yang tidak nyaman, perubahan persepsi warna, nyeri leher dan bahu, istilah yang digunakan akibat penggunaan komputer dikenal dengan Computer Vision Syndrome (CVS).

CVS adalah penyakit dengan gejala berupa ganguan pada penglihatan yang terjadi pada pengguna komputer. Sekarang ini di Amerika Serikat terdapat lebih 100 juta orang menggunakan komputer, dan lebih 50 persen diantaranya mengalami Computer Vision Syndrom (CVS). Dr. Natalio J Izquierdo dari Department of Ophthalmology, Medical Sciences Campus, University of Puerto Rico mengatakan bahwa frekuensi penderita penyakit ini adalah 25-93% dari seluruh pengguna komputer. Penelitian Tri Sejati pada tahun 1989 terhadap 40 orang operator komputer membuktikan bahwa 34 orang mengalami kelelahan mata. Dari jumlah tersebut ternyata 20% bekerja secara efektif antara 2-4 jam, sedang 65% bekerja secara efektif antara 5-8 jam. Penelitian Muhdahani pada tahun 1994, di antara 57 operator komputer yang mengoperasikan komputer minimal 4 jam sehari ternyata 88,5% mengalami kelelahan mata.

Adapun faktor yang mempengaruhi penyakit ini adalah faktor ligkungan dan faktor pribadi si penderita. Faktor lingkungan adalah komputer itu sendiri, baik perangkat-perangkatnya, maupun cara penggunaannya, radiasi komputer tidak akan menimbulkan efek yang berbahaya terhadap manusia, tetapi yang diperhatikan adalah lamanya radiasi menyinari tubuh, khususnya yang mengenai mata. Intensitas radiasi yang rendah tetapi lama penyinaran yang panjang, beberapa jam dalam sehari dapat menimbulkan gangguan fisiologis. Namun, faktor pribadi si pengguna komputer juga sangat menentukan. Hal tersebut dapat berupa pemakaian lensa kontak yang dapat meningkatkan radiasi dari monitor komputer tersebut. Atau dapat pula berpengaruh pada umur orang tersebut. Orang lanjut usia akan lebih mudah menderita penyakit ini berkaitan dengan kemampuan akomodasi matanya yang telah berkurang.

Disamping astenopia akibat kerja mata yang berlebihan didepan komputer juga. Mata kering berpotensi menimbulkan mata kering menggambarkan suatu keadaan defisiensi air mata baik secara kualitas maupun kuantitas, terjadi akibat penguapan air mata yang berlebihan. Gejala mata kering bervariasi pada tiap–tiap orang seperti perasaan tidak enak dimata, rasa benda asing, mata merah, rasa terbakar dan air mata berlebihan. Dr. Stephen Foster, Professor of Ophthalmology, Harvard Medical School mengatakan bahwa frekuensi penyakit ini adalah 10-30%. Pada pemakai komputer cendrung untuk mengurangi kedipan sekitar 7 kali permenit, sedangkan normalnya 22 kali per menit, ini akan meningkatkan evaporasi air mata.

Dengan adanya dampak-dampak negatif tersebut, akankah kita harus meninggalkan penggunaan komputer? Tentu tidak. Kita dapat mengantisipasi kemungkinan buruk tersebut terjadi namun tetap mengikuti perkembangan teknologi informasi, khususnya menggunakan komputer. Beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah filter pada monitor komputer agar radiasi sinar yang dipancarkan dapat berkurang. Kemudian, dianjurkan untuk istirahat selama 15 menit setelah bekerja terus menerus dengan komputer selama 2 jam dengan beban kerja sedang dan 1 jam pada beban kerja berat. Olah raga yang teratur juga dianjurkan untuk meningkatkan kebugaran dan kesehatan tubuh.





umat muhammad itu siapa???

24 03 2009

  • The Special One

    Hei hei saudara-saudaraku tercinta karena Allah…

    Pernah nggak kita bertanya tentang siapa kita?
    Mungkin jawabannya bermacam-macam. Ada yang bilang kalau kita itu makhluk hidup, manusia yang butuh sandang pangan papan, hamba Allah, dan lain-lain. Tapi, sadar nggak kita kalau diri kita itu selain sebagai manusia, makhluk hidup yang selalu butuh sesuatu, juga merupakan ummat yang spesial. Mengapa?Karena kita itu adalah ummat Nabi Muhammad SAW. Loh, trus kenapa ummat Nabi Muhammad SAW disebut spesial sich?

    Ini nih jawabannya.

    Nabi Adam a.s. pernah mengatakan bahwa ada Empat Keutamaan Ummat Nabi Muhammad SAW. Beliau berkata,
    “Ada empat keutamaan yang diberikan kepada ummat Muhammad yang tidak diberikan kepadaku, yaitu:
    1. Taubatku diterima Allah SWT di Makkah tetapi taubat ummat Muhammad diterima di tempat manapun di muka bumi ini.
    2. Ketika aku melakukan maksiat kepada Allah seketika pakaianku terlepas dari tubuhku, tetapi ummat Muhammad ketika durhaka kepada Allah mereka tidak dilepaskan pakaiannya.
    3. Aku melanggar larangan Allah aku dipisahkan dari istriku, tetapi ummat Muhammad tidak dipisahkan dari istrinya.

    4. Dan aku melakukan dosa di surga lalu diusir ke dunia, tetapi ummat Muhammad melakukan dosa di dunia tetapi ditempatkan di surga jika mereka bertobat dari kesalahannya.

    Nggak cuma itu kali!! Ada lagi hadits yang mengatakan bahwa berkata Wahab bin Munabbih rahimakumullah:”Ketika Musa a.s. Membaca lauh-lauh(papan bertulis), terlihat olehnya sifat-sifat kelebihan ummat Nabi Muhammad SAW, ;lalu beliau berkata:’Ya Tuhanku, siapakah gerangan ummat yang dirahmati seperti yang kudapati dalam lauh-lauh ini? Maka Allah berfirman: itulah ummat Muhammad.
    Adapun sifat-sifat itu ialah:
    1. ummat Muhammad rela dengan rezeki sedikit yang Aku (Allah SWT) berikan kepadanya, maka Aku pun rela dengan amalan yang sedikit dari mereka. Akan Ku masukkan mereka ke dalam surga dengan kesaksian Laa Ilaaha Illallah!
    2. mereka akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan wajah-wajah yang bercahaya laksana bulan purnama disebabkan bekas-bekas wudhu’ dan sujud mereka
    3. mereka berkain selendang di pundak dan bersenjatakan pedang di bahu masing-masing. Mereka senantiasa bertawakkal dan dadanya penuh keyakinan. Mereka menyerukan nama Allah di hadapan tiap-tiap rumah Allah untuk berjihad di atas kebenaran, sehingga akhirnya merekapun membunuh Dajjal
    4. mereka bershalat lima kali sehari semalam, sehingga terbukalah pintu-pintu langit dan turunlah rahmat bagi mereka
    Nah,,, sebenarnya masih banyak lagi keistimewaan ummat Nabi Muhammad SAW dibanding ummat terdahulu. Namun, karena keterbatasan tempat, maka cukup segelintir ini yang dapat ane sampein. Nah, nggak bangga tuh jadi ummat yang memiliki banyak keistimewaan di sisi Allah??? We are special, you know???
    Atau, kita udah tergolong menjadi ummat Nabi Muhammad yang memiliki keistimewaan seperti yang diutarakan tadi???
    Wallahu ‘alam bis shawab…





  • Gejala dan tanda gangguan jiwa: ditinjau dari Psikomotor

    28 12 2010

    Perilaku motorik (konasi) merupakan aspek psikis yang mencakup impuls, motivasi, keinginan, dorongan, insting, dan hasrat yang ditunjukkan melalui aktivitas motorik atau perilaku seseorang. , Gejala dan tanda motorik dapat disebabkan oleh gangguan neurologis yang menyebabkan sindroma organik otak, seperti rigiditas dalam penyakit Parkinson, atau mungkin berhubungan dengan kondisi emosional seperti gelisah atau tremor dalam kecemasan . Namun, ada satu kelompok lebih lanjut dari gejala yang sering terjadi pada psikosis fungsional. Gejala-gejala ini tidak tegas pada neurologis atau psikogenik dan disebut gangguan motilitas. Asal gejala motilitas mungkin menjadi kelainan ganglia basal fungsional(bukan morfologis).
    Sebuah klasifikasi lebih lanjut dari gangguan motilitas membedakan psikomotorik hiperfenomena (misalnya gangguan tik), hipofenomena (misalnya pingsan), dan parafenomena (misalnya manerisme). Gangguan tik adalah gerakan cepat tidak teratur melibatkan kelompok otot-otot wajah atau anggota badan. Stupor adalah keadaan di mana pasien tidak berkomunikasi, yaitu tidak berbicara (mutisme) atau bergerak (akinesia), meskipun ia waspada. Mutisme yaitu bisu tanpa abnormalitas struktural.2
    Akinesia yaitu tidak adanya gerakan fisik, seperti yang terdapat pada imobilitas ekstrim pada penderita skizofrenia katatonik; juga dapat terjadi akibat efek simpang ekstrapiramidal dari pengobatan antipsikotik. Sedangkan diskinesia merupakan kesulitan melakukan gerakan volunter, seperti pada gangguan ekstrapiramidal. Bedanya dengan hipoaktivitas (hipokinesis) adalah berupa penurunan aktivitas motorik dan kognitif, seperti pada retardasi psikomotor; perlambatan secara nyata pada proses pikir, bicara, dan gerakan. Manerisme, walaupun jarang, adalah ekspresi mencolok dengan isyarat, ucapan, atau objek (misalnya pakaian) yang tampaknya memiliki makna tertentu, sebagian besar delusi.1 Manerisme merupakan gerakan involunter yang menjadi kebiasaan dan mendarah daging.2
    Sebuah gangguan yang ditandai dengan motilitas terganggu disebut katatonia.1 Hal ini terjadi paling sering pada skizofrenia, dan jarang pada kondisi medis umum dan depresi berat. Beberapa kondisi, seperti tumor otak, ensefalitis, dan gangguan endokrin dan metabolisme, dapat menimbulkan gejala-gejala katatonik.1,

    Katatonia dapat berbentuk hipomobilitas atau imobilitas, dan dalam kasus yang ekstrim mengarah ke stupor katatonik. 1 Stupor katatonik yaitu aktivitas motorik yang melambat secara nyata, seringkali hingga mencapai suatu titik imobilitas dan tampak tak sadar akan sekitar.2 Atau mungkin mucul sebagai aktivitas motorik yang berlebihan (eksitasi katatonik), sebuah keadaan ekstrim yang mungkin berbahaya bagi pasien dan orang lain.1 Eksitasi katatonik adalah aktivitas motorik yang tak bertujuan dan teragitasi, tidak dipengaruhi oleh stimulus eksternal.2
    Sebuah gejala penting dari katatonia adalah katalepsia, di mana postur tidak nyaman dan aneh dipertahankan melawan gravitasi atau gaya lainnya. Katalepsi merupakan istilah umum untuk posisi tidak bergerak yang dipertahankan secara konstan. Katatonia dan abnormalitas postur ditemukan pada skizofrenia katatonik dan beberapa kasus penyakit otak, seperti ensefalitis. Seorang pemeriksa mencoba untuk memindahkan secara pasif tubuh dgn katalepsia akan terlihat ‘fleksibilitas lilin’, yang sangat berbeda dari kekakuan (rigiditas katatonik) atau kekejangan. Fleksibilitas serea (fleksibilitas lilin) adalah keadaan sese-orang yang dapat dibentuk menjadi posisi tertentu kemudian dipertahankan; ketika pemeriksa menggerakkan anggota gerak orang tersebut, anggota gerak itu terasa seperti terbuat dari lilin.
    Rigiditas katatonik adalah keadaan mempertahankan suatu postur rigid secara volunter, meski telah dilakukan semua usaha untuk menggerakkannya. Sedangkan Postur katatonik: mempertahankan suatu postur aneh dan tidak pada tempatnya secara volunter, biasanya dipertahankan dalam jangka waktu lama. Ekofenomena dapat terjadi ketika pasien berinteraksi dengan orang lain dan muncul sebagai ekolalia (imitasi pembicaraan orang lain) atau ekopraxia (imitasi tindakan orang lain). Ekopraksia adalah peniruan gerakan seseorang oleh orang lain secara patologis.
    Sedangkan istilah lainnya1,2 yang merupakan tanda dan gejala psikomotor adalah:
    1. Kejang: serangan atau awitan gejala tertentu yang mendadak, contohnya konvulsi, hilang kesadaran, serta gangguan psikis atau sensorik; ditemui pada epilepsi dan dapat diinduksi oleh zat.
    a. Kejang tonik-klonik menyeluruh: awitan gerakan tonik-klonik pada ekstremitas yang menyeluruh, menggigit lidah, dan inkontinensia dan diikuti oleh pemulihan kesadaran dan kognisi secara lambat bertahap; disebut juga kejang grand mal dan kejang psikomotor.
    b. Kejang parsial sederhana: awitan kejang iktal tanpa gangguan kesadaran.
    c. Kejang parsial kompleks: awitan kejang iktal dengan gangguan kesadaran.
    2. Overaktivitas.
    a. Agitasi psikomotor: overaktivitas motorik dan kognitif yang berlebihan, biasanya bersifat nonproduktif dan merupakan respons terhadap ketegangan dari dalam.
    b. Hiperaktivitas (hiperkinesis): aktivitas yang merusak, agresif, dan gelisah, sering disebabkan oleh sejumlah patologi otak yang mendasari.
    c. Tik: gerakan motorik spasmodik yang involunter.
    d. Berjalan dalam tidur (somnabulisme): aktivitas motorik saat tidur.
    e. Akatisia: perasaan subjektif berupa rasa tegang pada otot sekunder akibat antipsikotika atau obat lain, yang dapat mengakibatkan kegelisahan, berjalan mondar-mandir, duduk-berdiri berulang kali; dapat disalahartikan sebagai agitasi psikotik.
    f. Kompulsi: impuls tak terkendali untuk melakukan suatu tindakan secara repetitif.
    i. Dipsomania: kompulsi untuk minum alkohol.
    ii. Kleptomania: kompulsi untuk mencuri.
    iii. Nimfomania: keinginan kompulsif dan berlebih untuk melakukan koitus pada wanita.
    iv. Satiriasis: keinginan kompulsif dan berlebih untuk melakukan koitus pada pria.
    v. Trikotilomania: kompulsi untuk menarik rambut.
    vi. Ritual: aktivitas otomatis, bersifat kompulsif, bertujuan untuk mengurangi ansietas.
    g. Ataksia: kegagalan koordinasi otot; iregularitas kerja otot.
    h. Polifagia: makan berlebihan yang patologis.
    i. Tremor: perubahan gerakan secara ritmis, biasanya lebih cepat dari satu ketukan per detik; biasanya, tremor berkurang selama periode relaksasi dan tidur serta meningkat pada periode kemarahan dan peningkatan ketegangan.
    j. Floksilasi: gerakan mencabuti yang tidak bertujuan, biasanya pakaian atau seprai, sering terlihat pada delirium.
    3. Katapleksi: hilangnya tonus otot dan kelemahan sementara yang dipicu oleh berbagai keadaan emosional.
    4. Rigiditas otot: keadaan ketika otot tetap tak dapat digerakkan; ditemui pada skizofrenia.
    5. Bradikinesia: kelambanan aktivitas motorik disertai penurunan gerakan spontan normal.
    6. Khorea: gerakan acak, menyentak, cepat, involunter dan tak bertujuan.
    7. Konvulsi: kontraksi atau spasme otot yang hebat dan involunter.
    a. Konvulsi klonik: konvulsi berupa otot yang berkontraksi dan berelaksasi secara bergantian.
    b. Konvulsi tonik: konvulsi berupa kontraksi otot yang tertahan.
    8. Distonia: kontraksi badan atau ekstremitas yang lambat dan tertahan; dapat ditemui pada distonia akibat obat
    9. Stereotipi: pola tindakan fisik atau berbicara yang tetap dan berulang.
    10. Negativisme: tahanan tanpa motif terhadap semua usaha untuk menggerakkan atau terhadap semua instruksi.
    11. Otomatisme: tindakan dilakukan secara otomatis yang biasanya melambangkan aktivitas simbolik bawah sadar.
    12. Otomatisme perintah: secara otomatis mengikuti saran (juga disebut kepatuhan otomatis).
    13. Mimikri: aktivitas motorik imitatif sederhana pada masa kanak-kanak.
    14. Agresi: tindakan penuh tenaga dan bertujuan yang dapat bersifat verbal maupun fisik; lawan motorik dari afek gusar, marah atau benci.
    15. Abulia: penurunan rangsang untuk bertindak dan berpikir, akibat sikap tidak peduli akan konsekuensi dari tindakannya; akibat defisit neurologis.
    16. Anergia: tidak berenergi (anergi).
    17. Astasia abasia: ketidakmampuan untuk berdiri atau berjalan secara normal, meski gerakan tungkai normal dapat dilakukan pada posisi duduk atau berbaring. Cara berjalannya aneh dan tidak mengarah ke suatu lesi organik spesifik; terdapat pada gangguan konversi.
    18. Aminia: ketidakmampuan untuk membuat gerakan isyarat atau memahami gerakan isyarat yang dilakukan oleh orang lain.





    Paralisis: Etiologi, Klasifikasi, Patofisiologi, dan Tata Laksana

    28 12 2010

    A. Gejala Klinis
    Tabel 1 Diagnosis Etiologi Kelumpuhan Berdasarkan Gejala Klinisnya

    B. Epidemiologi
    Kelemahan tungkai adalah keluhan yang biasa ditemui pada kasus gangguan neuromuskular1. Guillain-Barre syndrome (GBS) merupakan penyebab utama nontraumatic, non-stroke paralisis flaksid akut di negara-negara Barat , dengan angka kejadian 0,75-2,0 kasus per 100.000 orang1. Myasthenia gravis (MG) adalah penyebab paling umum transmisi penyakit neuromuskuler, dengan prevalensi sebesar 14,2 kasus per 100.000 orang1. Botulisme terjadi lebih jarang, di AS yang dilaporkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dari tahun 1973 sampai 1996. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa virus West Nile juga dapat menyebabkan paralisis flaksid1, , .
    Penyebab paralisis flaksid akut lainnya termasuk poliomyelitis paralitik dan myelitis transversal; etiologi yang jarang terjadi berupa neuritis traumatis, ensefalitis, meningitis dan tumor .
    Tabel 2 Perbedaan gejala klinis pada Lesi UMN dan LMN
    LMN UMN
    Atrofi Ada (atrofi neurogenik) Hanya atrofi karena tidak digunakan (disuse)
    Fasikulasi Mungkin ada Tidak ada
    Tonus Normal atau menurun (flaksiditas) Meningkat (spastisitas)
    Kekuatan Kelemahan fokal, misalnya pada distribusi nervus/radiks saraf Berdasar gerakan

    Postur - Penyimpangan gerakan tangan yang diluruskan (mata tertutup)
    Refleks tendon Menurun atau tidak ada Meningkat
    Klonus Tidak ada Mungkin ada
    Respons plantar Ke bawah (plantarfleksi) atau tidak ada Ke atas (Babinski positif)
    Respons abdomen superfisial Ada Mungkin tidak ada
    Pola berjalan Mungkin melangkah tinggi-tinggi Spastik, langkah menggunting, sirkumduksi

    C. Sindrom Klinis Lesi Sistem Motorik
    1. Lesi-Lesi pada Jaras Motorik Sentral
    Patogenesis paresis spastik sentral. Pada fase akut suatu lesi di traktus kortikospinalis, refleks tendon profunda akan bersifat hipoaktif dan terdapat kelemahan flaksid pada otot . Refleks muncul kembali beberapa hari atau beberapa minggu kemudian dan menjadi hiperaktif, karena spindel otot berespons lebih sensitif terhadap regangan dibandingkan dengan keadaan normal, terutama fleksor ekstremitas atas dan ekstensor ekstremitas bawah. Hipersensitivitas ini terjadi akibat hilangnya kontrol inhibisi sentral desendens pada sel-sel fusimotor (neuron motor γ) yang mempersarafi spindel otot. Dengan demikian, serabut-serabut otot intrafusal teraktivasi secara permanen (prestretched) dan lebih mudah berespons terhadap peregangan otot lebih lanjut dibandingkan normal.
    Paresis spastik selalu terjadi akibat lesi susunan saraf pusat (otak dan/atau medula spinalis) dan akan terlihat lebih jelas bila terjadi kerusakan pada traktus desendens lateral dan medial sekaligus (misalnya pada lesi medula spinalis). Patofisiologi spastisitas masih belum dipahami, tetapiy’aros motorik tambahan jelas memiliki peran penting, karena lesi kortikal murni dan terisolasi tidak menyebabkan spastisitas.
    Sindrom paresis spastik sentral. Sindrom ini terdiri dari:
    • Penurunan kekuatan otot dan gangguan kontrol motorik halus
    • Peningkatan tonus spastik
    • Refleks regang yang berlebihan secara abnormal, dapat disertai oleh klonus
    • Hipoaktivitas atau tidak adanya refleks eksteroseptif (refleks abdominal, refleks plantar, dan refleks kremaster)
    • Refleks patologis (refleks Babinski, Oppenheim, Gordon, dan Mendel-Bekhterev, serta diinhibisi respons hindar (flight), dan
    • (awalnya) Massa otot tetap baik

    1.1. Lesi di korteks serebri
    Suatu lesi yang melibatkan korteks serebri, seperti pada tumor, infark, atau cedera traumatik, menyebabkan kelemahan sebagian tubuh sisi kontra-lateral. Temuan klinis khas yang berkaitan dengan lesi di lokasi tersebut adalah paresis ekstremitas atas bagian distal yang dominan, konsekuensi fungsional yang terberat adalah gangguan kontrol motorik halus. Kelemahan tersebut tidak total (paresis, bukan plegia), dan lebih berupa gangguan flaksid, bukan bentuk spastik, karena jaras motorik tambahan (nonpiramidal) sebagian besar tidak terganggu. Lesi iritatif pada lokasi tersebut (a) dapat menimbulkan kejang fokal.
    1.2. Lesi di kapsula interna
    Jika kapsula interna terlibat (misalnya, oleh perdarahan atau iskemia), akan terjadi hemiplegia spastik kontralateral—lesi pada level ini mengenai serabut piramidal dan serabut non piramidal, karena serabut kedua jaras tersebut terletak berdekatan. Paresis pada sisi kontralateral awalnya berbentuk flaksid (pada “fase syok”) tetapi menjadi spastik dalam beberapa jam atau hari akibat kerusakan pada serabut-serabut nonpiramidal yang terjadi bersamaan.
    1.3. Lesi setingkat pedunkulus serebri
    Lesi setingkat pedunkulus serebri, seperti proses vaskular, perdarahan, atau tumor, menimbulkan hemiparesis spastik kontralateral yang dapat disertai oleh kelumpuhan nervus okulomotorius.
    1.4. Lesi pons
    Lesi pons yang melibatkan traktus piramidalis (contohnya pada tumor, iskemia batang otak, perdarahan) menyebabkan hemiparesis kontralateral atau mungkin bilateral. Serabut-serabut yang mempersarafi nukleus fasialis dan nukleus hipoglosalis telah berjalan ke daerah yang lebih dorsal sebelum mencapai tingkat ini; dengan demikian, kelumpuhan nervus hipoglosus dan nervus fasialis tipe sentral jarang terjadi,
    1.5. Lesi pada piramid medula
    Lesi pada piramid medula dapat merusak serabut-serabut traktus piramidalis secara terisolasi, karena serabut-serabut nonpira¬midal terletak lebih ke dorsal pada tingkat ini. Akibatnya, dapat terjadi hemiparesis flaksid kontralateral. Kelemahan tidak bersifat total (paresis, bukan plegia), karena jaras desendenss lain tidak terganggu.
    1.6. Lesi traktus piramidalis di medula spinalis
    Lesi traktus piramidalis di medula spinalis. Suatu lesi yang mengenai traktus piramidalis pada level servikal (misalnya, akibat tumor, mielitis, trauma) menyebabkan hemiplegia spastik ipsilateral; ipsilateral karena traktus ter¬sebut telah menyilang pada level yang lebih tinggi, dan spastik karena traktus tersebut mengandung serabut-serabut piramidalis dan non piramidalis pada level ini. Lesi bilateral di medula spinalis servikalis bagian atas dapat menyebabkan kuadriparesis atau kuadriplegia.
    2. Lesi-Lesi pada Jaras Motorik Perifer
    Paralisis flaksid disebabkan oleh interupsi unit motorik di suatu tempat manapun, dapat di kornu anterius, salah satu atau beberapa radiks anterior, pleksus saraf, atau saraf perifer. Kerusakan unit motorik memutuskan serabut otot di unit motorik dari persarafan volunter maupun refleks. Otot-otot yang terkena sangat lemah (plegia), dan terdapat penurunan tonus otot yang jelas (hipotonia), serta hilangnya refleks (arefleksia) karena lengkung refleks regang monosinaptik terputus. Atrofi otot terjadi dalam beberapa minggu, ketika otot tersebut secara perlahan-lahan digantikan oleh jaringan ikat; setelah beberapa bulan atau tahun terjadinya atrofi yang progresif, penggantian ini akan selesai.

    Sindrom paralisis flaksid terdiri dari:
    • Penurunan kekuatan kasar
    • Hipotonia atau atonia otot
    • Hiporefleksia atau arefleksia
    • Atrofi otot
    Lesi biasanya dapat dilokalisasi secara spesifik di kornu anterius, radiks anterior, pleksus saraf, atau saraf perifer dengan bantuan elektromiografi dan elektroneurografi. Jika paralisis pada satu atau beberapa ekstremitas disertai oleh defisit somatosensorik dan otonom, lesi diduga berada di distal radiks saraf dan dengan demikian terletak di pleksus saraf atau di saraf tepi.
    2.1. Sindrom ganglion radiks dorsalis7
    Infeksi pada satu atau beberapa ganglia spinalia oleh virus neurotropik paling sering terjadi di regio torakal dan menyebabkan eritema yang nyeri pada dermatom yang sesuai, diikuti oleh pembentukan sejumlah vesikel kulit. Gambaran klinis ini, disebut herpes zoster, berkaitan dengan rasa sangat tidak nyaman, nyeri seperti ditusuk-tusuk dan parestesia di area yang terkena. Infeksi dapat melewati ganglia spinalia ke medula spinalis itu sendiri, tetapi, jika hal tersebut terjadi, biasanya tetap terbatas pada area kecil di medula spinalis Keterlibatan komu anterius yang menyebabkan paresis flaksid jarang ditemukan, hemiparesis atau paraparesis bahkan lebih jarang lagi. Elektromiografi dapat nunjukkan defisit motorik segmental pada hingga 2/3 kasus, tetapi karena herpes zoster biasanya ditemukan di area torakal, defisitnya cenderung tidak bermakna secg fungsional, dan dapat luput dari perhatian pasien. Pada beberapa kasus, tidak terdapat lesi kulit (herpes sine herpete). Herpes zoster relatif sering, dengan insidens 3-5 kasus per 1000 orang per tahun; individu dengan penurunan kekebalan tubuh (misal, pas AIDS, keganasan, atau dalam imunosupresi) berisiko lebih tinggi. Terapi dengan pengobatan kulit topikal serta asiklovir, atau agen virustatik lainnya, dianjurkan untuk diberikan. Bahkan dengan terapi yang sesuai, neuralgia pasca-herpes di area yang terkena bukan merupakan komplikasi yang jarang. Keadaan ini dapat diobati secara simptomatik dengan berbagai terapi, termasuk karbamazepin dan gabapentin.
    2.2. Sindrom substansia grisea7
    Kerusakan pada substansia grisea sentral medula spinalis akibat siringomielia, hematomielia, tumor medula spinalis intra-medular, atau proses-proses lain mengganggu semua jaras serabut yang melewati substansia grisea. Serabut yang paling terpengaruh adalah serabut yang berasal dari sel-sel kornu posterius dan yang menghantarkan sensasi tekanan, raba kasar, nyeri, dan suhu; serabut-serabut tersebut menyilang di substansia grisea sentral dan kemudian berjalan naik di traktus spinotalamikus lateralis dan anterior.
    Siringomielia ditandai dengan pembentukan satu atau beberapa rongga berisi-cairan di medula spinalis; penyakit yang serupa di batang otak disebut siringobulbia. Rongga ini, disebut siring, dapat terbentuk oleh berbagai mekanisme yang berbeda dan terdisitribusi dengan pola karakteristik yang berbeda, sesuai dengan mekanisme pembentukannya.Siringomielia paling sering mengenai medula spinalis servikalis, umumnya menimbulkan hilangnya sensasi nyeri dan suhu di bahu dan ekstremitas atas. Siring yang meluas secara progresif dapat merusak traktus medula spinalis yang panjang, menyebabkan (para) paresis spastik, dan gangguan pada proses berkemih, defekasi, dan fungsi seksual. Siringobulbia sering menyebabkan atrofi unilateral pada lidah, hiperalgesia atau analgesia pada wajah, dan berbagai jenis nistagmus sesuai dengan lokasi dan konfigurasi siring.
    2.3. Sindrom kornu anterius.
    Baik poliomielitis akut maupun berbagai jenis atrofi otot spinal secara spesifik memengaruhi sel-sel kornu anterius, terutama pada pembesaran servikalis dan lumbalis medula spinalis. Pada poliomielitis (infeksi virus), sejumlah sel kornu anterius hilang secara akut dan ireversibel, terutama di regio lumbalis, menyebabkan paresis flaksid pada otot-otot di segmen yang sesuai. Otot proksimal cenderung lebih terpengaruh daripada otot distal. Otot menjadi atrofi dan pada kasus yang berat, dapat tergantikan seluruhnya oleh jaringan ikat dan lemak. poliomielitis jarang mengenai seluruh otot ekstremitas, karena sel-sel kornu anterius tersusun di kolumna vertikal yang panjang di dalam medula spinalis.
    2.4. Sindrom transeksi medula spinalis
    Ketika sindroma transeksi medula spinalis muncul perlahan-lahan bukan dengan tiba-tiba, misalnya, karena tumor yang tumbuh secara lambat, syok spinal tidak terjadi. Sindrom transeksi pada kasus seperti ini biasanya parsial, dan bukan total. Paraparesis spastik yang berat dan progresif terjadi di bawah tingkat lesi, disertai oleh defisit sensorik, disfungsi miksi, defekasi, dan seksual, serta manifestasi otonomik (regulasi vasomotor dan berkeringat yang abnormal, kecenderungan untuk terjadi ulkus dekubitus).
    Sindrom Transeksi Medula Spinalis pada Berbagai Tingkat
    2.4.1. Sindrom transeksi medula spinalis servikalis.
    Transeksi medula spinalis di atas vertebra servikalis III fatal, karena dapat menghentikan pernapasan (hilangnya fungsi nervus frenikus dan nervi interkostales secara total). Pasien tersebut hanya dapat ber-tahan jika diberikan ventilasi buatan dalam beberapa menit setelah trauma penyebabnya, keadaan yang sangat jarang terjadi. Transeksi pada tingkat servikal bawah menyebabkan kuadriparesis dengan keterlibatan otot-otot interkostal; pernapasan dapat sangat terganggu. Ekstremitas atas terkena dengan luas yang bervariasi tergantung pada tingkat lesi. Tingkat lesi dapat ditentukan secara tepat dari defisit sensorik yang ditemukan pada pemeriksaan fisik.
    2.4.2. Sindrom transeksi medula spinalis torasika.
    Transeksi medula spinalis torasika bagian atas tidak menggangu ekstremitas atas, tetapi mengganggu pernapasan dan juga dapat menimbulkan ileus paralisis melalui keterlibatan nervus splankhnikus. Transeksi medula spinalis torasika bagian bawah tidak mengganggu otot-otot abdomen dan tidak mengganggu pernapasan.
    2.5. Sindrom radikular.
    Radiks terutama sangat rentan terhadap kerusakan pada atau di dekat jalan keluarnya melalui foramina intervertebra. Penyebab tersering meliputi proses stenosis (penyempitan foramina, misalnya akibat pertumbuhan tulang yang berlebihan), protrusio diskus, dan herniasi diskus yang menekan radiks yang keluar. Proses lain, seperti penyakit infeksi pada korpus vertebrae, tumor, dan trauma, dapat juga merusak radiks nervus spina ketika keluar dari medula spinalis.

    Lesi radikular menimbulkan manifestasi karakteristik berikut:
    • Nyeri dan defisit sensorik pada dermatom yang sesuai.
    • Kerusakan sensasi nyeri lebih berat dibandingkan modalitas sensorik lainnya.
    • Penurunan kekuatan otot-otot pengindikasi-segmen dan, pada kasus yang berat dan jarang, terjadi atrofi otot.
    • Defisit refleks sesuai dengan radiks yang rusak
    • Tidak adanya defisit otonom (berkeringat, piloereksi, dan fungsi vasomotor pada ekstremitas, karena serabut simpatis dan parasimpatis bergabung deng saraf perifer di distal radiks dan dengan demikian tidak dirusak oleh radikular.
    3. Neuropati
    Transeksi beberapa saraf perifer menimbulkan paresis flaksid pada otot yang dipersarafi oleh saraf tersebut, defisit sensorik pada distribusi serabut-serabut saraf aferen yang terkena, dan defisit otonom.
    Ketika kesinambungan suatu akson terganggu, degenerasi akson dan selubung mielinnya dimulai dalam beberapa jam atau hari di lokasi cedera, kemudian berjalan ke arah distal menuruni akson tersebut, dan biasanya selesai dalam 15-20 hari (disebut degenerasi sekunder atau degenerasi Walleriari).
    Penyebab kelumpuhan saraf perifer terisolasi yang lebih sering adalah: kompresi saraf di titik yang rentan secara anatomis atau daerah leher botol (sindrom skalenus, sindrom terowongan kubital, sindrom terowongan karpal, cedera n.peroneus pada kaput fibula, sindrom terowongan tarsal); cedera traumatik (termasuk lesi iatrogenik, misalnya cedera akibat tusukan atau injeksi); dan iskemia (misalnya, pada sindrom kompartemen dan, yang lebih jarang, proses infeksi/ inflamasi).
    3.1. Mononeuropati
    Gangguan saraf perifer tunggal akibat trauma, khususnya akibat tekanan, atau gangguan suplai darah (vasa nervorum).
    Gangguan sistemik yang secara umum dapat menyebabkan saraf sangat sensitif terhadap tekanan, misalnya diabetes melitus, atau penyakit lain yang menyebabkan gangguan perdarahan yang menyebar luas, misalnya vaskulitis, dapat menyebabkan neuropati multifokal (atau mono-neuritis multipleks).
    3.1.1. Carpal tunnel syndrome
    Sindrom ini terjadi akibat kompresi nervus medianus pada pergelangan tangan saat saraf ini melalui terowongan karpal, yang dapat terjadi:
    • Secara tersendiri, contohnya pasien dengan pekerjaan yang banyak menggunakan tangan,
    • Pada gangguan yang menyebabkan saraf menjadi sensitif terhadap tekanan, misalnya diabetes melitus,
    • Saat terowongan karpal penuh dengan jaringan lunak yang abnormal
    Gambaran klinis sindrom terowongan karpal adalah:
    • Nyeri di tangan atau lengan, terutama pada malam hari, atau saat bekerja,
    • Pengecilan dan kelemahan otot-otot eminensia tenar,
    • Hilangnya sensasi pada tangan pada distribusi nervus medianus,
    • Parestesia seperti kesemutan pada distribusi nervus medianus saat dilakukan perkusi pada telapak tangan daerah terowongan karpal (tanda tinel),
    • Kondisi ini sering bilateral.
    Diagnosis dapat dipastikan secara elektrodiagnostik. Pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab, bila belum jelas, meliputi kadar glukosa darah, LED, dan fungsi tiroid.
    Tabel 3 Hubungan keadaan medis umum dengan sindrom terowongan karpal6
    Kehamilan
    Diabetes melitus
    Deformitas lokal, misalnya sekunder akibat osteoartritis, fraktur
    Artritis reumatoid
    Miksedema
    Akromegali
    Amiloidosis
    Neurologi

    3.1.2. Neuropati ulnaris
    Nervus ulnaris rentan terhadap kerusakan akibat tekanan pada beberapa tempat di sepanjang perjalanannya, tetapi terutama pada siku.
    Gambaran klinis meliputi:
    • Nyeri dan/atau parestesia seperti kesemutan yang menjalar ke bawah dari siku ke lengan sampai batas ulnaris tangan,
    • Atrofi dan kelemahan otot-otot intrinsik tangan
    • Hilangnya sensasi tangan pada distribusi nervus ulnaris,
    • Deformitas tangan cakar (claw hand) yang khas pada lesi kronik
    Pemeriksaan konduksi saraf dapat menentukan lokasi lesi sepanjang perjalanan nervus ulnaris.
    Lesi ringan dapat membaik dengan balutan tangan pada malam hari, dengan posisi siku ekstensi untuk mengurangi tekanan pada saraf. Untuk lesi yang lebih berat, dekompresi bedah atau transposisi nervus ulnaris, belum dapat dijamin keberhasilannya. Tetapi operasi diperlukan jika terdapat kerusakan nervus ulnaris terus-menerus, yang ditunjukkan dengan gejala nyeri persisten dan/atau gangguan motorik progresif.
    3.2. Polineuropati
    Proses patologis yang mengenai beberapa saraf tepi disebut polineuropati, dan proses infeksi atau inflamasi yang mengenai beberapa saraf tepi disebut polineuritis. Polineuropati dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria struktur-histologis (aksonal, demielinasi, iskemia-vaskular), berdasarkan sistem yang terkena (sensorik, motorik, otonom), atau berdasarkan distribusi defisit neurologis (mononeuropati multipleks, distal-simetrik, proksimal). Polineuropati dan polineuritis memiliki banyak penyebab, sehingga diagnosis serta penatalaksanaannya sangat kompleks. Sering diakibatkan oleh proses peradangan, metabolik, atau toksik yang menyebabkan kerusakan dengan pola difus, distal, dan simetris yang biasanya mengenai ekstremitas bawah sebelum ekstremitas atas.
    Tabel 4 Diagnosis pada gangguan saraf perifer1

    Tabel 5 Penyebab polineuropati6

    Infeksi
    - Lepra
    - Difteri
    - Penyakit Lyme
    - HIV

    Inflamasi
    - Sindrom Guillain-Barre
    - Polineuropati demielinasi inflamasi kronik
    - Sarkoidosis
    - Sindrom Sjorgen
    - Vaskulitis-lupus, poliarteritis
    Neoplastik
    - Paraneoplastik
    - Paraproteinemik
    Metabolik
    - Diabetes melitus
    - Uremia
    - Miksedema
    - Amiloidosis
    Nutrisi
    Defisiensi vitamin, terutama tiamin, niasin, dan B12

    Toksik
    Contohnya alkohol, timbal, arsen, emas, merkuri, talium, insektisida, heksana
    Obat-obatan
    Contohnya isoniazid, vinkristin, sisplatin, metronidazol, nitrofurantoin, fenitoin, amiodaron

    3.2.1. Diagnosis
    Penyakit difus saraf perifer dapat disubklasifikasikan menurut ada tidaknya keterlibatan sensorik atau motorik atau keduanya. Secara patofisiologis, dapat dibagi menjadi subdivisi lagi, tergantung apakah lokasi penyakit pada selubung mielin atau sarafnya sendiri (neuropati demielinasi dan neuropati aksonal, yang dapat dibedakan dari pemeriksaan konduksi saraf). Pasien dapat menunjukkan gejala baal pada bagian distal dan/atau parestesia atau nyeri. Gejala motorik meliputi kelemahan dan distal atrofi otot. Neuropati jangka panjang dapat menyebabkan deformitas pada kaki dan tangan (pes cavus, tangan cakar) dan gangguan sensorik berat dapat menyebabkan ulserasi neuropati dan deformitas sendi, dan dapat pula disertai gejala otonom. Tanda-tanda klinisnya adalah keterlibatan luas LMN distal dengan atrofi, kelemahan otot, serta arefleksia tendon. Hilangnya sensasi posisi distal dapat menyebabkan ataksia sensorik. Dapat terjadi hilangnya sensasi nyeri, suhu, dan raba dengan distribusi ‘glove and stocking’ .
    3.2.2. Tatalaksana
    Terapi polineuropati tergantung dari penyebabnya. Neuropati akibat inflamasi umumnya harus ditangani di pusat spe-sialistik. Polineuropati demielinasi infla¬masi akut (sindrom Guillain-Barre) merupakan keadaan neurologis yang berpotensi gawat darurat. Polineu¬ropati demielinasi inflamasi kronik dan neuropati vaskulitis membutuhkan terapi kortikosteroid dan/atau imunomodulator yang meliputi obat-obat imunosupresan (azatioprin, siklofosfamid, atau siklosporin), imunoglobulin intravena, atau pertukaran plasma. Terapi simtomatik dapat mengurangi komplikasi neuropatik seperti gambaran otonom dan nyeri. Sangat penting untuk membedakan antara sindrom Guillain-Barre dan po¬lineuropati demielinasi inflamasi kronik, karena keduanya merupakan gangguan pada saraf perifer, akibat demielinasi pada SSP.
    Tabel 6 Pemeriksaan penunjang polineuropati6

    Pemeriksaan darah
    Darah perifer lengkap, LED, glukosa, ureum, elektrolit, fungsi hati dan tiroid, vitamin B]2, elektroforesis protein serum, autoantibodi
    Urin
    Mikroskopik untuk mencari bukti vaskulitis, glukosa, porfirin, protein Bence-Jones
    Cairan serebrospinal
    Peningkatan protein, terutama pada neuropati inflamasi
    Neurofisiologi
    Pemeriksaan konduksi saraf dan EMG

    Foto toraks
    Untuk sarkoidosis, karsinoma
    Pemeriksaan penunjang khusus untuk pasien tertentu
    • Biopsi saraf, bila penyebab perburukan neuropati belum diketahui dengan pemeriksaan lengkap, juga untuk mengkonfirmasi vaskulitis, lepra, dan polineuropati demielinasi inflamasi kronik Biopsi sumsum tulang, survei tulang bila ada kecurigaan myeloma
    • Tes darah spesifik untuk kecurigaan kondisi tertentu, misalnya analisis DNA untuk neu-ropati herediter, enzim sel darah putih untuk inborn error of metabolism, antibodi Borrelia untuk penyakit Lyme

    4. Sindrom pada Taut Neuromuskular dan Otot6
    4.1. Miastenia
    Kelelahan abnormal pada otot-otot rangka merupakan manifestasi utama gangguan taut neuromuskular. Kelemahan yang bergantung-latihan awalnya sering mengenai; otot-otot ekstraokular, menimbulkan ptosis atau diplopia, karena unit motorik otot-otot tersebut hanya mengandung sedikit serabut otot. Pasien dengan miastenia generalisata juga mengalami disfagia dan kelemahan otot rangka yang timbul setelah melakukan latihan, terutama pada bagian proksimal. Penyebab sindrom miastenik tersering adalah miastenia gravis (istilah sebelumnya: miastenia gravis pseudopara- litika), suatu penyakit autoimun ketika tubuh membentuk antibodi terhadap reseptor asetilkolin di motor end plate. Reseptor yang tersisa untuk transmisi sinyal yang adekuat terlalu sedikit, sehingga otot tidak lagi tereksitasi secara adekuat oleh saraf yang mempersarafinya. Elektromiografi menunjukkan penurunan ukuran (“decrement”) potensial aksi otot pada stimulasi elektrik berulang pada otot yang terkena.
    Diagnosis miastenia gravis ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis yang khas, penurunan elektromiografi, adanya antibodi terhadap reseptor asetilkolin di sirkulasi, dan perbaikan kelemahan setelah pemberian penghambat asetilkolinesterase kerja cepat, seperti edrofonium klorida7. Gangguan ini dapat diobati secara efektif dengan penghambat asetilkolinesterase kerja-panjang, supresi imun, dan sebagai tambahan, dengan timektomi (pada pasien muda).
    4.2. Miopati
    Kebalikan dengan miastenia, miopati (gangguan primer otot) biasanya menimbulkan kelemahan dengan progresivitas lambat dan tidak bergantung latihan. Atrofi otot aki-bat miopati lebih ringan dibandingkan atrofi otot neurogenik dan sebagian disamarkan oleh pergantian jaringan otot oleh lemak (liposis, disebut juga lipomatosis), sehingga terdapat ketidaksesuaian antara penampakan otot yang normal atau pseudohipertofik dan derajat kelemahan sesungguhnya. Tidak ada defisit sensorik atau otonom, atau fasikulasi, yang menunjukkan lesi neurogenik. Mialgia dan spasme otot lebih sering terjadi pada miopati metabolik dibandingkan pada miopati kongenital.
    Berbagai jenis miopati meliputi distrofi muskular (resesif terkait-X, autosomal dorninan, dan resesif), miopati metabolik, distrofi miotonik (dengan manifestasi tambahan seperti katarak, kebotakan di bagian frontal, dan abnormalitas sistemik lain, seperti pada distrofi Steinert-Batten-Curschmann), dan miositis. adekuat terlalu sedikit, sehingga otot tidak lagi tereksitasi secara adekuat oleh saraf yang mempersaraflnya. Elektromiografi menunjukkan penurunan ukuran (“decre¬ment”) potensial aksi otot pada stimulasi elektrik berulang pada otot yang terkena. Diagnosis miastenia gravis ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis yang khas, penurunan elektromiografi, adanya antibodi terhadap reseptor asetilkolin di sirkulasi, dan perbaikan kelemahan setelah pemberian penghambat asetilkolinesterase kerja-cepat, seperti edrofonium klorida. Gangguan ini dapat diobati secara efektif dengan penghambat asetilkolinesterase kerja-panjang, supresi imun, dan sebagai tambahan, dengan timektomi (pada pasien muda).
    Informasi terpenting untuk diagnosis banding miopati didapatkan dari riwayat keluarga secara rinci, pemeriksaan klinis, pemeriksaan laboratorium (terutama kreatin kinase), dan elektromiografi, serta analisis genetik molekular, yang telah menjadi pemeriksaan yang sangat canggih dalam beberapa tahun terakhir dan dapat memberikan diagnosis pasti pada banyak kasus. Akibatnya, hal ini memungkinkan prognosis yang lebih sesuai dan konseling genetik yang baik.
    Kaitan dengan pemicu
    Gejala yang dialami pasien pada pemicu, yakni berupa paralisis flaksid secara umum dapat ditemukan pada lesi LMN dan NMJ. Kejadian yang hanya 3 hari (akut) umumnya ditemukan pada polineuropati dan NMJ. Walaupun gejala teraparesis umumnya ditemukan pada lesi UMN, namun juga khas ditemukan pada polineuropati, yaitu sindrom Guillain-Barre, dan biasanya menjalar asendens. Oleh karena itu, masih perlu dilakukan analisis cairan serebrospinal. Pada pasien paralasis flasid juga sering disertai dengan ketidakmapuan mempertahankan jalan nafas tetap terbuka, karena paralisis otot-otot pernapasan dan diafragma. Oleh karena itu, diperlukan intubasi secepat mungkin terutama pada penyakit yang onsetnya progresif, seperti sindrom Guillain-Barre.





    Masyarakat Belum Melestarikan Kekayaan Hayati

    22 06 2009

    Selasa, 26 Mei 2009 | 17:06 WIB

    - Indonesia memiliki berjuta kekayaan hayati. Namun sayang, kesadaran masyarakat Indonesia untuk melestarikan Kekayaan hayati yang ada masih sangat kurang.

    Demikian dikatakan Damayanti Buchari, Direktur Yayasan Kehati, usai konfrensi pers Kehati Award, Selasa ( 26/5 ).

    “Banyak kerusakan yang terjadi pada kekayaan hayati. Selain itu, Para penegak hukum juga belum menjalankan peraturan yang ada, namun pelaku perusakan kekayaan hayati tetap saja bisa lepas,” sesal Damayanti.

    Jika hal tersebut berlanjut, Damayanti mengkhawatirkan kekayaan hayati yang ada akan segera punah dan generasi penerus tidak lagi dapat menikmatinya.

    “Selain itu, jika kerusakan hayati terus berlanjut alam Indonesia juga akan rusak. Dan untuk memperbaikinya butuh waktu yang sangat lama” tambahnya.

    Selanjutnya dia menerangkan kekayaan hayati sangat penting dijaga, karena bukan hanya milik Indonesia. “Kekayaan hayati anugerah yang harus dijaga, semua negara berhak juga atas kekayaan hayati yang ada di Indonesia,” kata Damayanti.

    Sumber: KOMPAS.com





    1 04 2009

    me








    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.