BOP Berkeadilan, Adilkah?

3 05 2009

Bagaimana keadilan bisa ditegakkan jika panitia BOP tidak dapat melihat dan menilai secara jelas mana mahasiswa yang benar-benar membutuhkan bantuan dan mana yang seharusnya tidak butuh? Mana mahasiswa yang “benar-benar” tidak mampu dan mana yang sebenarnya mampu?
Defitra Nanda

Suatu hal yang sangat menggemparkan ketika Universitas Indonesia menaikkan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) sehingga para mahasiswanya wajib membayar sebesar 7,5 juta rupiah setiap semesternya yang diberlakukan sejak tahun 2008, jumlah itu merupakan 5 kali lipat dari besaran BOP sebelumnya. Namun, dengan adanya kebijakan baru tersebut, diberlakukan pula sistem yang dinamakan BOP Berkeadilan. Hal ini didukung dengan dikeluarkannya SK Rektor UI No. 432B tahun 2008 terutama pada Pasal 2 yang dikatakan bahwa pembebanan besaran BOP per semester berkisar antara Rp. 100.000,-(seratus ribu rupiah) hingga 5 juta rupiah untuk rumpun ilmu sosial dan humaniora, dan antara 100.000,-(seratus ribu rupiah) hingga 7,5 juta untuk rumpun kesehatan dan rumpun sains dan teknologi. Read the rest of this entry »





umat muhammad itu siapa???

24 03 2009

  • The Special One

    Hei hei saudara-saudaraku tercinta karena Allah…

    Pernah nggak kita bertanya tentang siapa kita?
    Mungkin jawabannya bermacam-macam. Ada yang bilang kalau kita itu makhluk hidup, manusia yang butuh sandang pangan papan, hamba Allah, dan lain-lain. Tapi, sadar nggak kita kalau diri kita itu selain sebagai manusia, makhluk hidup yang selalu butuh sesuatu, juga merupakan ummat yang spesial. Mengapa?Karena kita itu adalah ummat Nabi Muhammad SAW. Loh, trus kenapa ummat Nabi Muhammad SAW disebut spesial sich?

    Ini nih jawabannya.

    Nabi Adam a.s. pernah mengatakan bahwa ada Empat Keutamaan Ummat Nabi Muhammad SAW. Beliau berkata,
    “Ada empat keutamaan yang diberikan kepada ummat Muhammad yang tidak diberikan kepadaku, yaitu:
    1. Taubatku diterima Allah SWT di Makkah tetapi taubat ummat Muhammad diterima di tempat manapun di muka bumi ini.
    2. Ketika aku melakukan maksiat kepada Allah seketika pakaianku terlepas dari tubuhku, tetapi ummat Muhammad ketika durhaka kepada Allah mereka tidak dilepaskan pakaiannya.
    3. Aku melanggar larangan Allah aku dipisahkan dari istriku, tetapi ummat Muhammad tidak dipisahkan dari istrinya.

    4. Dan aku melakukan dosa di surga lalu diusir ke dunia, tetapi ummat Muhammad melakukan dosa di dunia tetapi ditempatkan di surga jika mereka bertobat dari kesalahannya.

    Nggak cuma itu kali!! Ada lagi hadits yang mengatakan bahwa berkata Wahab bin Munabbih rahimakumullah:”Ketika Musa a.s. Membaca lauh-lauh(papan bertulis), terlihat olehnya sifat-sifat kelebihan ummat Nabi Muhammad SAW, ;lalu beliau berkata:’Ya Tuhanku, siapakah gerangan ummat yang dirahmati seperti yang kudapati dalam lauh-lauh ini? Maka Allah berfirman: itulah ummat Muhammad.
    Adapun sifat-sifat itu ialah:
    1. ummat Muhammad rela dengan rezeki sedikit yang Aku (Allah SWT) berikan kepadanya, maka Aku pun rela dengan amalan yang sedikit dari mereka. Akan Ku masukkan mereka ke dalam surga dengan kesaksian Laa Ilaaha Illallah!
    2. mereka akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan wajah-wajah yang bercahaya laksana bulan purnama disebabkan bekas-bekas wudhu’ dan sujud mereka
    3. mereka berkain selendang di pundak dan bersenjatakan pedang di bahu masing-masing. Mereka senantiasa bertawakkal dan dadanya penuh keyakinan. Mereka menyerukan nama Allah di hadapan tiap-tiap rumah Allah untuk berjihad di atas kebenaran, sehingga akhirnya merekapun membunuh Dajjal
    4. mereka bershalat lima kali sehari semalam, sehingga terbukalah pintu-pintu langit dan turunlah rahmat bagi mereka
    Nah,,, sebenarnya masih banyak lagi keistimewaan ummat Nabi Muhammad SAW dibanding ummat terdahulu. Namun, karena keterbatasan tempat, maka cukup segelintir ini yang dapat ane sampein. Nah, nggak bangga tuh jadi ummat yang memiliki banyak keistimewaan di sisi Allah??? We are special, you know???
    Atau, kita udah tergolong menjadi ummat Nabi Muhammad yang memiliki keistimewaan seperti yang diutarakan tadi???
    Wallahu ‘alam bis shawab…





  • fakta baru!!!

    21 03 2009

    Komputer Mempengaruhi Mata Anda


    K

    enalkah Anda dengan komputer? Hal ini tentunya bukanlah pertanyaan yang sulit lagi bagi kita umumnya. Komputer dengan perangkatnya telah menemani keseharian kehidupan di banyak tempat di dunia ini. Apalagi dengan adanya fasilitas yang bernama internet. Fasilitas ini memungkinkan kita untuk saling bertukar informasi, mencari informasi, bertukar pendapat, bahkan menjalin hubungan baik dengan orang lain yang berada sangat jauh dari kita. Seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang akhir–akhir ini sebagai tuntutan globalisasi mengharuskan seseorang untuk selalu mendapat informasi mutakhir, baik melalui media elektronik, media massa, internet serta penggunaan komputer yang sangat luas


    .


    Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan internet di dunia ini lebih dari 1 milyar orang. Hal itu dapat dilihat dari tabel berikut ini,


    Sementara itu, Tim Computer Network ITB pada tahun 1996 mencatat jumlah pemakai internet di Indonesia mencapai 25.000 – 30.000 orang. Jumlah itu meningkat menjadi ± 800 ribu orang pada tahun 1999 (Priyatmo, Kompas 12 Maret 2000). Menurut data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), jumlah tersebut meningkat tajam menjadi sekitar 2 juta orang pada akhir tahun 2000 (Bisnis Indonesia, 4 Februari 2002). Pada akhir 2006, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 18 juta orang. Sedangkan pada akhir tahun 2008, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 25 juta orang. Dan jumlah ini akan terus melonjak, diperkirakan mencapai 60 juta pengguna pada tahun 2010 (www.republika.co.id, 1 Maret 2007).

    Namun, di balik pesatnya perkembangan jumlah pengguna komputer tersebut, terkadang kita lupa akan dampak negatif apabila kita menggunakan komputer terlalu lama. Dampak negatif tersebut terutama pada kesehatan kita yaitu gangguan pada penglihatan. Beberapa gejala pada mata akibat penggunaan komputer telah ditemukan dan penyebab utamanya adalah radiasi dari monitor komputer itu sendiri. Gejala–gejala yang dapat terjadi pada mata adalah kelelahan pada mata yang dapat mencapai 75 %–90 % yang dilaporkan WHO, mata kering, sakit kepala, kabur melihat dekat secara periodik, kadang–kadang kabur melihat jauh, mata merah, rasa panas, silau, pemakaian lensa kontak yang tidak nyaman, perubahan persepsi warna, nyeri leher dan bahu, istilah yang digunakan akibat penggunaan komputer dikenal dengan Computer Vision Syndrome (CVS).

    CVS adalah penyakit dengan gejala berupa ganguan pada penglihatan yang terjadi pada pengguna komputer. Sekarang ini di Amerika Serikat terdapat lebih 100 juta orang menggunakan komputer, dan lebih 50 persen diantaranya mengalami Computer Vision Syndrom (CVS). Dr. Natalio J Izquierdo dari Department of Ophthalmology, Medical Sciences Campus, University of Puerto Rico mengatakan bahwa frekuensi penderita penyakit ini adalah 25-93% dari seluruh pengguna komputer. Penelitian Tri Sejati pada tahun 1989 terhadap 40 orang operator komputer membuktikan bahwa 34 orang mengalami kelelahan mata. Dari jumlah tersebut ternyata 20% bekerja secara efektif antara 2-4 jam, sedang 65% bekerja secara efektif antara 5-8 jam. Penelitian Muhdahani pada tahun 1994, di antara 57 operator komputer yang mengoperasikan komputer minimal 4 jam sehari ternyata 88,5% mengalami kelelahan mata.

    Adapun faktor yang mempengaruhi penyakit ini adalah faktor ligkungan dan faktor pribadi si penderita. Faktor lingkungan adalah komputer itu sendiri, baik perangkat-perangkatnya, maupun cara penggunaannya, radiasi komputer tidak akan menimbulkan efek yang berbahaya terhadap manusia, tetapi yang diperhatikan adalah lamanya radiasi menyinari tubuh, khususnya yang mengenai mata. Intensitas radiasi yang rendah tetapi lama penyinaran yang panjang, beberapa jam dalam sehari dapat menimbulkan gangguan fisiologis. Namun, faktor pribadi si pengguna komputer juga sangat menentukan. Hal tersebut dapat berupa pemakaian lensa kontak yang dapat meningkatkan radiasi dari monitor komputer tersebut. Atau dapat pula berpengaruh pada umur orang tersebut. Orang lanjut usia akan lebih mudah menderita penyakit ini berkaitan dengan kemampuan akomodasi matanya yang telah berkurang.

    Disamping astenopia akibat kerja mata yang berlebihan didepan komputer juga. Mata kering berpotensi menimbulkan mata kering menggambarkan suatu keadaan defisiensi air mata baik secara kualitas maupun kuantitas, terjadi akibat penguapan air mata yang berlebihan. Gejala mata kering bervariasi pada tiap–tiap orang seperti perasaan tidak enak dimata, rasa benda asing, mata merah, rasa terbakar dan air mata berlebihan. Dr. Stephen Foster, Professor of Ophthalmology, Harvard Medical School mengatakan bahwa frekuensi penyakit ini adalah 10-30%. Pada pemakai komputer cendrung untuk mengurangi kedipan sekitar 7 kali permenit, sedangkan normalnya 22 kali per menit, ini akan meningkatkan evaporasi air mata.

    Dengan adanya dampak-dampak negatif tersebut, akankah kita harus meninggalkan penggunaan komputer? Tentu tidak. Kita dapat mengantisipasi kemungkinan buruk tersebut terjadi namun tetap mengikuti perkembangan teknologi informasi, khususnya menggunakan komputer. Beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah filter pada monitor komputer agar radiasi sinar yang dipancarkan dapat berkurang. Kemudian, dianjurkan untuk istirahat selama 15 menit setelah bekerja terus menerus dengan komputer selama 2 jam dengan beban kerja sedang dan 1 jam pada beban kerja berat. Olah raga yang teratur juga dianjurkan untuk meningkatkan kebugaran dan kesehatan tubuh.





    ada buku bagus ne…

    21 03 2009

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Sinopsis buku
    Judul buku : The Winning Generation, Mengungkap Rahasia Generasi Pemenang
    Pengarang : DR. Sayyid Muhammad Nuh
    Penerbit : Uswah

    Buku ini sekilas secara umum menjelaskan atau lebih tepatnya menceritakan bagaimana para sahabat r.a. dalam menegakkan syariat Islam di bawah naungan Rasulullah SAW. Pengorbanan demi pengorbanan mereka curahkan hanya untuk berjuang untuk meneruskan dakwah Rasul SAW. Hal inilah yang membuat Islam dapat berkembang hingga meruntuhkan kekasairan Romawi yang tergolong kuat ketika itu. Dengan pencapaian mereka inilah makanya sang penulis menyebut mereka dengan sebutan Generasi Pemenang.
    Di dalam buku ini diceritakan 4 topik pembahasan yaitu,
    1. persaksian untuk generasi pemenang,
    2. karakter pemenang generasi sahabat,
    3. karakter sahabat menurut musuh Islam,
    4. dan belajar dari generasi sahabat

    Salah satu dari karakter pemenang generasi sahabat tadi adalah “Mencintai Persatuan dan Kesatuan”. Para sahabt paham betul bahwa untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT dan bantuan-Nya mesti ada persatuan dan kesatuan. Untuk itulah, mereka sangat mencintai persatuan dan kesatuan. Pemahaman mereka ini didasarkan pada:

    “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali agama Allah dan janganlah kamu bercerai berai”(Q. S. Ali Imran: 103)
    disamping itu, firman Allah lainnya yang menjadikan landasan bagi mereka adalah:
     Al-Maidah : 2
     Ali Imran: 105-107
    Selain itu mereka juga berpegang pada hadits Rasulullah SAW,yang artinya:
    “ Jangan sekali-kali bercerai-berai. Kalian wajib bersatu. Karena setan lebih dekat kepada seseorang yang menyendiri, daripada kepada dua orang.”

    Beberapa generasi pemenang itu, berkata:
     Utsman r.a. : ”Perselisihan adalah sesuatu yang terburuk”
     Abu Dzar r.a. : “Perselisihan itu lebih berat”
     Imam Ali r.a. : “Lakukan seperti kalian telah melakukannya. Sesungguhnya saya benar-benar akan memerangi perselisihan hingga orang-orang bersatu atau saya mati seperti sahabat-sahabatku.”
    “Persatuan adalah bergabung dengan pengikut kebenaran walaupun mereka sedikit dan perpecahan adalah bergabung dengan pengikut kebatilan meskipun mereka banyak”

    Dengan kata lain, buku menegaskan kepada kita bahwa apabila kita ingin menjadi generasi pemenang, generasi yang menang atas musuh-musuh Islam bila kita memperhatikan masalah persatuan dan kesatuan (ukhuwah Islamiyah).
    Demikian segelintir yang dapat saya sampaikan, Jazakumullahakatsiran…

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wa barakatuh….





    muhammad itu kayak apa ya???

    18 03 2009

    Making Rasulullah SAW in your heart

    Hai sahabat-sahabatku satu barisan. Ini adalah sepucuk surat dari darah muslim yang sangat ingin digolongkan sebagai kekasih Rasulullah, dan engkau sahabatku akan segera menjadi penerima syafaat tersebut. Simaklah!

    Hei hei hei. Ada yang bilang dalam lagunya, “You will be my heartâ€. Tapi Rasulullah SAW akan mengatakan kepada kita, “Tidak hanya hatiku yang kau dapat, iman yang sempurna kan kau raihâ€. Hal ini dapat kita lihat dalam sabdanya, yaitu: “ Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia menjadikan aku yang lebih dicintainya daripada orang tua dan anaknya sendiri.â€(H.R. Muslim).

    Waduh, gue bingung nih gimana ya caranya mencintai Rasulullah SAW? Nah, ada pepatah yang mengatakan bahwa “ Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cintaâ€. Jadi, kenali dulu karakteristik Rasulullah SAW.

    Wah, Rasulullah SAW itu gimana ya? Let’s begin the point. Trust me, it works. Read the rest of this entry »





    poems

    18 03 2009

    Cinta…

    semut dan gula…

    warna sirna menerpa hati…

    ku tak tahu apa yang terjadi…

    ku tak bisa melihat di sisi gelapnya hati…

    ku bertanya Read the rest of this entry »





    Gejala dan tanda gangguan jiwa: ditinjau dari Psikomotor

    28 12 2010

    Perilaku motorik (konasi) merupakan aspek psikis yang mencakup impuls, motivasi, keinginan, dorongan, insting, dan hasrat yang ditunjukkan melalui aktivitas motorik atau perilaku seseorang. , Gejala dan tanda motorik dapat disebabkan oleh gangguan neurologis yang menyebabkan sindroma organik otak, seperti rigiditas dalam penyakit Parkinson, atau mungkin berhubungan dengan kondisi emosional seperti gelisah atau tremor dalam kecemasan . Namun, ada satu kelompok lebih lanjut dari gejala yang sering terjadi pada psikosis fungsional. Gejala-gejala ini tidak tegas pada neurologis atau psikogenik dan disebut gangguan motilitas. Asal gejala motilitas mungkin menjadi kelainan ganglia basal fungsional(bukan morfologis).
    Sebuah klasifikasi lebih lanjut dari gangguan motilitas membedakan psikomotorik hiperfenomena (misalnya gangguan tik), hipofenomena (misalnya pingsan), dan parafenomena (misalnya manerisme). Gangguan tik adalah gerakan cepat tidak teratur melibatkan kelompok otot-otot wajah atau anggota badan. Stupor adalah keadaan di mana pasien tidak berkomunikasi, yaitu tidak berbicara (mutisme) atau bergerak (akinesia), meskipun ia waspada. Mutisme yaitu bisu tanpa abnormalitas struktural.2
    Akinesia yaitu tidak adanya gerakan fisik, seperti yang terdapat pada imobilitas ekstrim pada penderita skizofrenia katatonik; juga dapat terjadi akibat efek simpang ekstrapiramidal dari pengobatan antipsikotik. Sedangkan diskinesia merupakan kesulitan melakukan gerakan volunter, seperti pada gangguan ekstrapiramidal. Bedanya dengan hipoaktivitas (hipokinesis) adalah berupa penurunan aktivitas motorik dan kognitif, seperti pada retardasi psikomotor; perlambatan secara nyata pada proses pikir, bicara, dan gerakan. Manerisme, walaupun jarang, adalah ekspresi mencolok dengan isyarat, ucapan, atau objek (misalnya pakaian) yang tampaknya memiliki makna tertentu, sebagian besar delusi.1 Manerisme merupakan gerakan involunter yang menjadi kebiasaan dan mendarah daging.2
    Sebuah gangguan yang ditandai dengan motilitas terganggu disebut katatonia.1 Hal ini terjadi paling sering pada skizofrenia, dan jarang pada kondisi medis umum dan depresi berat. Beberapa kondisi, seperti tumor otak, ensefalitis, dan gangguan endokrin dan metabolisme, dapat menimbulkan gejala-gejala katatonik.1,

    Katatonia dapat berbentuk hipomobilitas atau imobilitas, dan dalam kasus yang ekstrim mengarah ke stupor katatonik. 1 Stupor katatonik yaitu aktivitas motorik yang melambat secara nyata, seringkali hingga mencapai suatu titik imobilitas dan tampak tak sadar akan sekitar.2 Atau mungkin mucul sebagai aktivitas motorik yang berlebihan (eksitasi katatonik), sebuah keadaan ekstrim yang mungkin berbahaya bagi pasien dan orang lain.1 Eksitasi katatonik adalah aktivitas motorik yang tak bertujuan dan teragitasi, tidak dipengaruhi oleh stimulus eksternal.2
    Sebuah gejala penting dari katatonia adalah katalepsia, di mana postur tidak nyaman dan aneh dipertahankan melawan gravitasi atau gaya lainnya. Katalepsi merupakan istilah umum untuk posisi tidak bergerak yang dipertahankan secara konstan. Katatonia dan abnormalitas postur ditemukan pada skizofrenia katatonik dan beberapa kasus penyakit otak, seperti ensefalitis. Seorang pemeriksa mencoba untuk memindahkan secara pasif tubuh dgn katalepsia akan terlihat ‘fleksibilitas lilin’, yang sangat berbeda dari kekakuan (rigiditas katatonik) atau kekejangan. Fleksibilitas serea (fleksibilitas lilin) adalah keadaan sese-orang yang dapat dibentuk menjadi posisi tertentu kemudian dipertahankan; ketika pemeriksa menggerakkan anggota gerak orang tersebut, anggota gerak itu terasa seperti terbuat dari lilin.
    Rigiditas katatonik adalah keadaan mempertahankan suatu postur rigid secara volunter, meski telah dilakukan semua usaha untuk menggerakkannya. Sedangkan Postur katatonik: mempertahankan suatu postur aneh dan tidak pada tempatnya secara volunter, biasanya dipertahankan dalam jangka waktu lama. Ekofenomena dapat terjadi ketika pasien berinteraksi dengan orang lain dan muncul sebagai ekolalia (imitasi pembicaraan orang lain) atau ekopraxia (imitasi tindakan orang lain). Ekopraksia adalah peniruan gerakan seseorang oleh orang lain secara patologis.
    Sedangkan istilah lainnya1,2 yang merupakan tanda dan gejala psikomotor adalah:
    1. Kejang: serangan atau awitan gejala tertentu yang mendadak, contohnya konvulsi, hilang kesadaran, serta gangguan psikis atau sensorik; ditemui pada epilepsi dan dapat diinduksi oleh zat.
    a. Kejang tonik-klonik menyeluruh: awitan gerakan tonik-klonik pada ekstremitas yang menyeluruh, menggigit lidah, dan inkontinensia dan diikuti oleh pemulihan kesadaran dan kognisi secara lambat bertahap; disebut juga kejang grand mal dan kejang psikomotor.
    b. Kejang parsial sederhana: awitan kejang iktal tanpa gangguan kesadaran.
    c. Kejang parsial kompleks: awitan kejang iktal dengan gangguan kesadaran.
    2. Overaktivitas.
    a. Agitasi psikomotor: overaktivitas motorik dan kognitif yang berlebihan, biasanya bersifat nonproduktif dan merupakan respons terhadap ketegangan dari dalam.
    b. Hiperaktivitas (hiperkinesis): aktivitas yang merusak, agresif, dan gelisah, sering disebabkan oleh sejumlah patologi otak yang mendasari.
    c. Tik: gerakan motorik spasmodik yang involunter.
    d. Berjalan dalam tidur (somnabulisme): aktivitas motorik saat tidur.
    e. Akatisia: perasaan subjektif berupa rasa tegang pada otot sekunder akibat antipsikotika atau obat lain, yang dapat mengakibatkan kegelisahan, berjalan mondar-mandir, duduk-berdiri berulang kali; dapat disalahartikan sebagai agitasi psikotik.
    f. Kompulsi: impuls tak terkendali untuk melakukan suatu tindakan secara repetitif.
    i. Dipsomania: kompulsi untuk minum alkohol.
    ii. Kleptomania: kompulsi untuk mencuri.
    iii. Nimfomania: keinginan kompulsif dan berlebih untuk melakukan koitus pada wanita.
    iv. Satiriasis: keinginan kompulsif dan berlebih untuk melakukan koitus pada pria.
    v. Trikotilomania: kompulsi untuk menarik rambut.
    vi. Ritual: aktivitas otomatis, bersifat kompulsif, bertujuan untuk mengurangi ansietas.
    g. Ataksia: kegagalan koordinasi otot; iregularitas kerja otot.
    h. Polifagia: makan berlebihan yang patologis.
    i. Tremor: perubahan gerakan secara ritmis, biasanya lebih cepat dari satu ketukan per detik; biasanya, tremor berkurang selama periode relaksasi dan tidur serta meningkat pada periode kemarahan dan peningkatan ketegangan.
    j. Floksilasi: gerakan mencabuti yang tidak bertujuan, biasanya pakaian atau seprai, sering terlihat pada delirium.
    3. Katapleksi: hilangnya tonus otot dan kelemahan sementara yang dipicu oleh berbagai keadaan emosional.
    4. Rigiditas otot: keadaan ketika otot tetap tak dapat digerakkan; ditemui pada skizofrenia.
    5. Bradikinesia: kelambanan aktivitas motorik disertai penurunan gerakan spontan normal.
    6. Khorea: gerakan acak, menyentak, cepat, involunter dan tak bertujuan.
    7. Konvulsi: kontraksi atau spasme otot yang hebat dan involunter.
    a. Konvulsi klonik: konvulsi berupa otot yang berkontraksi dan berelaksasi secara bergantian.
    b. Konvulsi tonik: konvulsi berupa kontraksi otot yang tertahan.
    8. Distonia: kontraksi badan atau ekstremitas yang lambat dan tertahan; dapat ditemui pada distonia akibat obat
    9. Stereotipi: pola tindakan fisik atau berbicara yang tetap dan berulang.
    10. Negativisme: tahanan tanpa motif terhadap semua usaha untuk menggerakkan atau terhadap semua instruksi.
    11. Otomatisme: tindakan dilakukan secara otomatis yang biasanya melambangkan aktivitas simbolik bawah sadar.
    12. Otomatisme perintah: secara otomatis mengikuti saran (juga disebut kepatuhan otomatis).
    13. Mimikri: aktivitas motorik imitatif sederhana pada masa kanak-kanak.
    14. Agresi: tindakan penuh tenaga dan bertujuan yang dapat bersifat verbal maupun fisik; lawan motorik dari afek gusar, marah atau benci.
    15. Abulia: penurunan rangsang untuk bertindak dan berpikir, akibat sikap tidak peduli akan konsekuensi dari tindakannya; akibat defisit neurologis.
    16. Anergia: tidak berenergi (anergi).
    17. Astasia abasia: ketidakmampuan untuk berdiri atau berjalan secara normal, meski gerakan tungkai normal dapat dilakukan pada posisi duduk atau berbaring. Cara berjalannya aneh dan tidak mengarah ke suatu lesi organik spesifik; terdapat pada gangguan konversi.
    18. Aminia: ketidakmampuan untuk membuat gerakan isyarat atau memahami gerakan isyarat yang dilakukan oleh orang lain.





    Paralisis: Etiologi, Klasifikasi, Patofisiologi, dan Tata Laksana

    28 12 2010

    A. Gejala Klinis
    Tabel 1 Diagnosis Etiologi Kelumpuhan Berdasarkan Gejala Klinisnya

    B. Epidemiologi
    Kelemahan tungkai adalah keluhan yang biasa ditemui pada kasus gangguan neuromuskular1. Guillain-Barre syndrome (GBS) merupakan penyebab utama nontraumatic, non-stroke paralisis flaksid akut di negara-negara Barat , dengan angka kejadian 0,75-2,0 kasus per 100.000 orang1. Myasthenia gravis (MG) adalah penyebab paling umum transmisi penyakit neuromuskuler, dengan prevalensi sebesar 14,2 kasus per 100.000 orang1. Botulisme terjadi lebih jarang, di AS yang dilaporkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dari tahun 1973 sampai 1996. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa virus West Nile juga dapat menyebabkan paralisis flaksid1, , .
    Penyebab paralisis flaksid akut lainnya termasuk poliomyelitis paralitik dan myelitis transversal; etiologi yang jarang terjadi berupa neuritis traumatis, ensefalitis, meningitis dan tumor .
    Tabel 2 Perbedaan gejala klinis pada Lesi UMN dan LMN
    LMN UMN
    Atrofi Ada (atrofi neurogenik) Hanya atrofi karena tidak digunakan (disuse)
    Fasikulasi Mungkin ada Tidak ada
    Tonus Normal atau menurun (flaksiditas) Meningkat (spastisitas)
    Kekuatan Kelemahan fokal, misalnya pada distribusi nervus/radiks saraf Berdasar gerakan

    Postur - Penyimpangan gerakan tangan yang diluruskan (mata tertutup)
    Refleks tendon Menurun atau tidak ada Meningkat
    Klonus Tidak ada Mungkin ada
    Respons plantar Ke bawah (plantarfleksi) atau tidak ada Ke atas (Babinski positif)
    Respons abdomen superfisial Ada Mungkin tidak ada
    Pola berjalan Mungkin melangkah tinggi-tinggi Spastik, langkah menggunting, sirkumduksi

    C. Sindrom Klinis Lesi Sistem Motorik
    1. Lesi-Lesi pada Jaras Motorik Sentral
    Patogenesis paresis spastik sentral. Pada fase akut suatu lesi di traktus kortikospinalis, refleks tendon profunda akan bersifat hipoaktif dan terdapat kelemahan flaksid pada otot . Refleks muncul kembali beberapa hari atau beberapa minggu kemudian dan menjadi hiperaktif, karena spindel otot berespons lebih sensitif terhadap regangan dibandingkan dengan keadaan normal, terutama fleksor ekstremitas atas dan ekstensor ekstremitas bawah. Hipersensitivitas ini terjadi akibat hilangnya kontrol inhibisi sentral desendens pada sel-sel fusimotor (neuron motor γ) yang mempersarafi spindel otot. Dengan demikian, serabut-serabut otot intrafusal teraktivasi secara permanen (prestretched) dan lebih mudah berespons terhadap peregangan otot lebih lanjut dibandingkan normal.
    Paresis spastik selalu terjadi akibat lesi susunan saraf pusat (otak dan/atau medula spinalis) dan akan terlihat lebih jelas bila terjadi kerusakan pada traktus desendens lateral dan medial sekaligus (misalnya pada lesi medula spinalis). Patofisiologi spastisitas masih belum dipahami, tetapiy’aros motorik tambahan jelas memiliki peran penting, karena lesi kortikal murni dan terisolasi tidak menyebabkan spastisitas.
    Sindrom paresis spastik sentral. Sindrom ini terdiri dari:
    • Penurunan kekuatan otot dan gangguan kontrol motorik halus
    • Peningkatan tonus spastik
    • Refleks regang yang berlebihan secara abnormal, dapat disertai oleh klonus
    • Hipoaktivitas atau tidak adanya refleks eksteroseptif (refleks abdominal, refleks plantar, dan refleks kremaster)
    • Refleks patologis (refleks Babinski, Oppenheim, Gordon, dan Mendel-Bekhterev, serta diinhibisi respons hindar (flight), dan
    • (awalnya) Massa otot tetap baik

    1.1. Lesi di korteks serebri
    Suatu lesi yang melibatkan korteks serebri, seperti pada tumor, infark, atau cedera traumatik, menyebabkan kelemahan sebagian tubuh sisi kontra-lateral. Temuan klinis khas yang berkaitan dengan lesi di lokasi tersebut adalah paresis ekstremitas atas bagian distal yang dominan, konsekuensi fungsional yang terberat adalah gangguan kontrol motorik halus. Kelemahan tersebut tidak total (paresis, bukan plegia), dan lebih berupa gangguan flaksid, bukan bentuk spastik, karena jaras motorik tambahan (nonpiramidal) sebagian besar tidak terganggu. Lesi iritatif pada lokasi tersebut (a) dapat menimbulkan kejang fokal.
    1.2. Lesi di kapsula interna
    Jika kapsula interna terlibat (misalnya, oleh perdarahan atau iskemia), akan terjadi hemiplegia spastik kontralateral—lesi pada level ini mengenai serabut piramidal dan serabut non piramidal, karena serabut kedua jaras tersebut terletak berdekatan. Paresis pada sisi kontralateral awalnya berbentuk flaksid (pada “fase syok”) tetapi menjadi spastik dalam beberapa jam atau hari akibat kerusakan pada serabut-serabut nonpiramidal yang terjadi bersamaan.
    1.3. Lesi setingkat pedunkulus serebri
    Lesi setingkat pedunkulus serebri, seperti proses vaskular, perdarahan, atau tumor, menimbulkan hemiparesis spastik kontralateral yang dapat disertai oleh kelumpuhan nervus okulomotorius.
    1.4. Lesi pons
    Lesi pons yang melibatkan traktus piramidalis (contohnya pada tumor, iskemia batang otak, perdarahan) menyebabkan hemiparesis kontralateral atau mungkin bilateral. Serabut-serabut yang mempersarafi nukleus fasialis dan nukleus hipoglosalis telah berjalan ke daerah yang lebih dorsal sebelum mencapai tingkat ini; dengan demikian, kelumpuhan nervus hipoglosus dan nervus fasialis tipe sentral jarang terjadi,
    1.5. Lesi pada piramid medula
    Lesi pada piramid medula dapat merusak serabut-serabut traktus piramidalis secara terisolasi, karena serabut-serabut nonpira¬midal terletak lebih ke dorsal pada tingkat ini. Akibatnya, dapat terjadi hemiparesis flaksid kontralateral. Kelemahan tidak bersifat total (paresis, bukan plegia), karena jaras desendenss lain tidak terganggu.
    1.6. Lesi traktus piramidalis di medula spinalis
    Lesi traktus piramidalis di medula spinalis. Suatu lesi yang mengenai traktus piramidalis pada level servikal (misalnya, akibat tumor, mielitis, trauma) menyebabkan hemiplegia spastik ipsilateral; ipsilateral karena traktus ter¬sebut telah menyilang pada level yang lebih tinggi, dan spastik karena traktus tersebut mengandung serabut-serabut piramidalis dan non piramidalis pada level ini. Lesi bilateral di medula spinalis servikalis bagian atas dapat menyebabkan kuadriparesis atau kuadriplegia.
    2. Lesi-Lesi pada Jaras Motorik Perifer
    Paralisis flaksid disebabkan oleh interupsi unit motorik di suatu tempat manapun, dapat di kornu anterius, salah satu atau beberapa radiks anterior, pleksus saraf, atau saraf perifer. Kerusakan unit motorik memutuskan serabut otot di unit motorik dari persarafan volunter maupun refleks. Otot-otot yang terkena sangat lemah (plegia), dan terdapat penurunan tonus otot yang jelas (hipotonia), serta hilangnya refleks (arefleksia) karena lengkung refleks regang monosinaptik terputus. Atrofi otot terjadi dalam beberapa minggu, ketika otot tersebut secara perlahan-lahan digantikan oleh jaringan ikat; setelah beberapa bulan atau tahun terjadinya atrofi yang progresif, penggantian ini akan selesai.

    Sindrom paralisis flaksid terdiri dari:
    • Penurunan kekuatan kasar
    • Hipotonia atau atonia otot
    • Hiporefleksia atau arefleksia
    • Atrofi otot
    Lesi biasanya dapat dilokalisasi secara spesifik di kornu anterius, radiks anterior, pleksus saraf, atau saraf perifer dengan bantuan elektromiografi dan elektroneurografi. Jika paralisis pada satu atau beberapa ekstremitas disertai oleh defisit somatosensorik dan otonom, lesi diduga berada di distal radiks saraf dan dengan demikian terletak di pleksus saraf atau di saraf tepi.
    2.1. Sindrom ganglion radiks dorsalis7
    Infeksi pada satu atau beberapa ganglia spinalia oleh virus neurotropik paling sering terjadi di regio torakal dan menyebabkan eritema yang nyeri pada dermatom yang sesuai, diikuti oleh pembentukan sejumlah vesikel kulit. Gambaran klinis ini, disebut herpes zoster, berkaitan dengan rasa sangat tidak nyaman, nyeri seperti ditusuk-tusuk dan parestesia di area yang terkena. Infeksi dapat melewati ganglia spinalia ke medula spinalis itu sendiri, tetapi, jika hal tersebut terjadi, biasanya tetap terbatas pada area kecil di medula spinalis Keterlibatan komu anterius yang menyebabkan paresis flaksid jarang ditemukan, hemiparesis atau paraparesis bahkan lebih jarang lagi. Elektromiografi dapat nunjukkan defisit motorik segmental pada hingga 2/3 kasus, tetapi karena herpes zoster biasanya ditemukan di area torakal, defisitnya cenderung tidak bermakna secg fungsional, dan dapat luput dari perhatian pasien. Pada beberapa kasus, tidak terdapat lesi kulit (herpes sine herpete). Herpes zoster relatif sering, dengan insidens 3-5 kasus per 1000 orang per tahun; individu dengan penurunan kekebalan tubuh (misal, pas AIDS, keganasan, atau dalam imunosupresi) berisiko lebih tinggi. Terapi dengan pengobatan kulit topikal serta asiklovir, atau agen virustatik lainnya, dianjurkan untuk diberikan. Bahkan dengan terapi yang sesuai, neuralgia pasca-herpes di area yang terkena bukan merupakan komplikasi yang jarang. Keadaan ini dapat diobati secara simptomatik dengan berbagai terapi, termasuk karbamazepin dan gabapentin.
    2.2. Sindrom substansia grisea7
    Kerusakan pada substansia grisea sentral medula spinalis akibat siringomielia, hematomielia, tumor medula spinalis intra-medular, atau proses-proses lain mengganggu semua jaras serabut yang melewati substansia grisea. Serabut yang paling terpengaruh adalah serabut yang berasal dari sel-sel kornu posterius dan yang menghantarkan sensasi tekanan, raba kasar, nyeri, dan suhu; serabut-serabut tersebut menyilang di substansia grisea sentral dan kemudian berjalan naik di traktus spinotalamikus lateralis dan anterior.
    Siringomielia ditandai dengan pembentukan satu atau beberapa rongga berisi-cairan di medula spinalis; penyakit yang serupa di batang otak disebut siringobulbia. Rongga ini, disebut siring, dapat terbentuk oleh berbagai mekanisme yang berbeda dan terdisitribusi dengan pola karakteristik yang berbeda, sesuai dengan mekanisme pembentukannya.Siringomielia paling sering mengenai medula spinalis servikalis, umumnya menimbulkan hilangnya sensasi nyeri dan suhu di bahu dan ekstremitas atas. Siring yang meluas secara progresif dapat merusak traktus medula spinalis yang panjang, menyebabkan (para) paresis spastik, dan gangguan pada proses berkemih, defekasi, dan fungsi seksual. Siringobulbia sering menyebabkan atrofi unilateral pada lidah, hiperalgesia atau analgesia pada wajah, dan berbagai jenis nistagmus sesuai dengan lokasi dan konfigurasi siring.
    2.3. Sindrom kornu anterius.
    Baik poliomielitis akut maupun berbagai jenis atrofi otot spinal secara spesifik memengaruhi sel-sel kornu anterius, terutama pada pembesaran servikalis dan lumbalis medula spinalis. Pada poliomielitis (infeksi virus), sejumlah sel kornu anterius hilang secara akut dan ireversibel, terutama di regio lumbalis, menyebabkan paresis flaksid pada otot-otot di segmen yang sesuai. Otot proksimal cenderung lebih terpengaruh daripada otot distal. Otot menjadi atrofi dan pada kasus yang berat, dapat tergantikan seluruhnya oleh jaringan ikat dan lemak. poliomielitis jarang mengenai seluruh otot ekstremitas, karena sel-sel kornu anterius tersusun di kolumna vertikal yang panjang di dalam medula spinalis.
    2.4. Sindrom transeksi medula spinalis
    Ketika sindroma transeksi medula spinalis muncul perlahan-lahan bukan dengan tiba-tiba, misalnya, karena tumor yang tumbuh secara lambat, syok spinal tidak terjadi. Sindrom transeksi pada kasus seperti ini biasanya parsial, dan bukan total. Paraparesis spastik yang berat dan progresif terjadi di bawah tingkat lesi, disertai oleh defisit sensorik, disfungsi miksi, defekasi, dan seksual, serta manifestasi otonomik (regulasi vasomotor dan berkeringat yang abnormal, kecenderungan untuk terjadi ulkus dekubitus).
    Sindrom Transeksi Medula Spinalis pada Berbagai Tingkat
    2.4.1. Sindrom transeksi medula spinalis servikalis.
    Transeksi medula spinalis di atas vertebra servikalis III fatal, karena dapat menghentikan pernapasan (hilangnya fungsi nervus frenikus dan nervi interkostales secara total). Pasien tersebut hanya dapat ber-tahan jika diberikan ventilasi buatan dalam beberapa menit setelah trauma penyebabnya, keadaan yang sangat jarang terjadi. Transeksi pada tingkat servikal bawah menyebabkan kuadriparesis dengan keterlibatan otot-otot interkostal; pernapasan dapat sangat terganggu. Ekstremitas atas terkena dengan luas yang bervariasi tergantung pada tingkat lesi. Tingkat lesi dapat ditentukan secara tepat dari defisit sensorik yang ditemukan pada pemeriksaan fisik.
    2.4.2. Sindrom transeksi medula spinalis torasika.
    Transeksi medula spinalis torasika bagian atas tidak menggangu ekstremitas atas, tetapi mengganggu pernapasan dan juga dapat menimbulkan ileus paralisis melalui keterlibatan nervus splankhnikus. Transeksi medula spinalis torasika bagian bawah tidak mengganggu otot-otot abdomen dan tidak mengganggu pernapasan.
    2.5. Sindrom radikular.
    Radiks terutama sangat rentan terhadap kerusakan pada atau di dekat jalan keluarnya melalui foramina intervertebra. Penyebab tersering meliputi proses stenosis (penyempitan foramina, misalnya akibat pertumbuhan tulang yang berlebihan), protrusio diskus, dan herniasi diskus yang menekan radiks yang keluar. Proses lain, seperti penyakit infeksi pada korpus vertebrae, tumor, dan trauma, dapat juga merusak radiks nervus spina ketika keluar dari medula spinalis.

    Lesi radikular menimbulkan manifestasi karakteristik berikut:
    • Nyeri dan defisit sensorik pada dermatom yang sesuai.
    • Kerusakan sensasi nyeri lebih berat dibandingkan modalitas sensorik lainnya.
    • Penurunan kekuatan otot-otot pengindikasi-segmen dan, pada kasus yang berat dan jarang, terjadi atrofi otot.
    • Defisit refleks sesuai dengan radiks yang rusak
    • Tidak adanya defisit otonom (berkeringat, piloereksi, dan fungsi vasomotor pada ekstremitas, karena serabut simpatis dan parasimpatis bergabung deng saraf perifer di distal radiks dan dengan demikian tidak dirusak oleh radikular.
    3. Neuropati
    Transeksi beberapa saraf perifer menimbulkan paresis flaksid pada otot yang dipersarafi oleh saraf tersebut, defisit sensorik pada distribusi serabut-serabut saraf aferen yang terkena, dan defisit otonom.
    Ketika kesinambungan suatu akson terganggu, degenerasi akson dan selubung mielinnya dimulai dalam beberapa jam atau hari di lokasi cedera, kemudian berjalan ke arah distal menuruni akson tersebut, dan biasanya selesai dalam 15-20 hari (disebut degenerasi sekunder atau degenerasi Walleriari).
    Penyebab kelumpuhan saraf perifer terisolasi yang lebih sering adalah: kompresi saraf di titik yang rentan secara anatomis atau daerah leher botol (sindrom skalenus, sindrom terowongan kubital, sindrom terowongan karpal, cedera n.peroneus pada kaput fibula, sindrom terowongan tarsal); cedera traumatik (termasuk lesi iatrogenik, misalnya cedera akibat tusukan atau injeksi); dan iskemia (misalnya, pada sindrom kompartemen dan, yang lebih jarang, proses infeksi/ inflamasi).
    3.1. Mononeuropati
    Gangguan saraf perifer tunggal akibat trauma, khususnya akibat tekanan, atau gangguan suplai darah (vasa nervorum).
    Gangguan sistemik yang secara umum dapat menyebabkan saraf sangat sensitif terhadap tekanan, misalnya diabetes melitus, atau penyakit lain yang menyebabkan gangguan perdarahan yang menyebar luas, misalnya vaskulitis, dapat menyebabkan neuropati multifokal (atau mono-neuritis multipleks).
    3.1.1. Carpal tunnel syndrome
    Sindrom ini terjadi akibat kompresi nervus medianus pada pergelangan tangan saat saraf ini melalui terowongan karpal, yang dapat terjadi:
    • Secara tersendiri, contohnya pasien dengan pekerjaan yang banyak menggunakan tangan,
    • Pada gangguan yang menyebabkan saraf menjadi sensitif terhadap tekanan, misalnya diabetes melitus,
    • Saat terowongan karpal penuh dengan jaringan lunak yang abnormal
    Gambaran klinis sindrom terowongan karpal adalah:
    • Nyeri di tangan atau lengan, terutama pada malam hari, atau saat bekerja,
    • Pengecilan dan kelemahan otot-otot eminensia tenar,
    • Hilangnya sensasi pada tangan pada distribusi nervus medianus,
    • Parestesia seperti kesemutan pada distribusi nervus medianus saat dilakukan perkusi pada telapak tangan daerah terowongan karpal (tanda tinel),
    • Kondisi ini sering bilateral.
    Diagnosis dapat dipastikan secara elektrodiagnostik. Pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab, bila belum jelas, meliputi kadar glukosa darah, LED, dan fungsi tiroid.
    Tabel 3 Hubungan keadaan medis umum dengan sindrom terowongan karpal6
    Kehamilan
    Diabetes melitus
    Deformitas lokal, misalnya sekunder akibat osteoartritis, fraktur
    Artritis reumatoid
    Miksedema
    Akromegali
    Amiloidosis
    Neurologi

    3.1.2. Neuropati ulnaris
    Nervus ulnaris rentan terhadap kerusakan akibat tekanan pada beberapa tempat di sepanjang perjalanannya, tetapi terutama pada siku.
    Gambaran klinis meliputi:
    • Nyeri dan/atau parestesia seperti kesemutan yang menjalar ke bawah dari siku ke lengan sampai batas ulnaris tangan,
    • Atrofi dan kelemahan otot-otot intrinsik tangan
    • Hilangnya sensasi tangan pada distribusi nervus ulnaris,
    • Deformitas tangan cakar (claw hand) yang khas pada lesi kronik
    Pemeriksaan konduksi saraf dapat menentukan lokasi lesi sepanjang perjalanan nervus ulnaris.
    Lesi ringan dapat membaik dengan balutan tangan pada malam hari, dengan posisi siku ekstensi untuk mengurangi tekanan pada saraf. Untuk lesi yang lebih berat, dekompresi bedah atau transposisi nervus ulnaris, belum dapat dijamin keberhasilannya. Tetapi operasi diperlukan jika terdapat kerusakan nervus ulnaris terus-menerus, yang ditunjukkan dengan gejala nyeri persisten dan/atau gangguan motorik progresif.
    3.2. Polineuropati
    Proses patologis yang mengenai beberapa saraf tepi disebut polineuropati, dan proses infeksi atau inflamasi yang mengenai beberapa saraf tepi disebut polineuritis. Polineuropati dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria struktur-histologis (aksonal, demielinasi, iskemia-vaskular), berdasarkan sistem yang terkena (sensorik, motorik, otonom), atau berdasarkan distribusi defisit neurologis (mononeuropati multipleks, distal-simetrik, proksimal). Polineuropati dan polineuritis memiliki banyak penyebab, sehingga diagnosis serta penatalaksanaannya sangat kompleks. Sering diakibatkan oleh proses peradangan, metabolik, atau toksik yang menyebabkan kerusakan dengan pola difus, distal, dan simetris yang biasanya mengenai ekstremitas bawah sebelum ekstremitas atas.
    Tabel 4 Diagnosis pada gangguan saraf perifer1

    Tabel 5 Penyebab polineuropati6

    Infeksi
    - Lepra
    - Difteri
    - Penyakit Lyme
    - HIV

    Inflamasi
    - Sindrom Guillain-Barre
    - Polineuropati demielinasi inflamasi kronik
    - Sarkoidosis
    - Sindrom Sjorgen
    - Vaskulitis-lupus, poliarteritis
    Neoplastik
    - Paraneoplastik
    - Paraproteinemik
    Metabolik
    - Diabetes melitus
    - Uremia
    - Miksedema
    - Amiloidosis
    Nutrisi
    Defisiensi vitamin, terutama tiamin, niasin, dan B12

    Toksik
    Contohnya alkohol, timbal, arsen, emas, merkuri, talium, insektisida, heksana
    Obat-obatan
    Contohnya isoniazid, vinkristin, sisplatin, metronidazol, nitrofurantoin, fenitoin, amiodaron

    3.2.1. Diagnosis
    Penyakit difus saraf perifer dapat disubklasifikasikan menurut ada tidaknya keterlibatan sensorik atau motorik atau keduanya. Secara patofisiologis, dapat dibagi menjadi subdivisi lagi, tergantung apakah lokasi penyakit pada selubung mielin atau sarafnya sendiri (neuropati demielinasi dan neuropati aksonal, yang dapat dibedakan dari pemeriksaan konduksi saraf). Pasien dapat menunjukkan gejala baal pada bagian distal dan/atau parestesia atau nyeri. Gejala motorik meliputi kelemahan dan distal atrofi otot. Neuropati jangka panjang dapat menyebabkan deformitas pada kaki dan tangan (pes cavus, tangan cakar) dan gangguan sensorik berat dapat menyebabkan ulserasi neuropati dan deformitas sendi, dan dapat pula disertai gejala otonom. Tanda-tanda klinisnya adalah keterlibatan luas LMN distal dengan atrofi, kelemahan otot, serta arefleksia tendon. Hilangnya sensasi posisi distal dapat menyebabkan ataksia sensorik. Dapat terjadi hilangnya sensasi nyeri, suhu, dan raba dengan distribusi ‘glove and stocking’ .
    3.2.2. Tatalaksana
    Terapi polineuropati tergantung dari penyebabnya. Neuropati akibat inflamasi umumnya harus ditangani di pusat spe-sialistik. Polineuropati demielinasi infla¬masi akut (sindrom Guillain-Barre) merupakan keadaan neurologis yang berpotensi gawat darurat. Polineu¬ropati demielinasi inflamasi kronik dan neuropati vaskulitis membutuhkan terapi kortikosteroid dan/atau imunomodulator yang meliputi obat-obat imunosupresan (azatioprin, siklofosfamid, atau siklosporin), imunoglobulin intravena, atau pertukaran plasma. Terapi simtomatik dapat mengurangi komplikasi neuropatik seperti gambaran otonom dan nyeri. Sangat penting untuk membedakan antara sindrom Guillain-Barre dan po¬lineuropati demielinasi inflamasi kronik, karena keduanya merupakan gangguan pada saraf perifer, akibat demielinasi pada SSP.
    Tabel 6 Pemeriksaan penunjang polineuropati6

    Pemeriksaan darah
    Darah perifer lengkap, LED, glukosa, ureum, elektrolit, fungsi hati dan tiroid, vitamin B]2, elektroforesis protein serum, autoantibodi
    Urin
    Mikroskopik untuk mencari bukti vaskulitis, glukosa, porfirin, protein Bence-Jones
    Cairan serebrospinal
    Peningkatan protein, terutama pada neuropati inflamasi
    Neurofisiologi
    Pemeriksaan konduksi saraf dan EMG

    Foto toraks
    Untuk sarkoidosis, karsinoma
    Pemeriksaan penunjang khusus untuk pasien tertentu
    • Biopsi saraf, bila penyebab perburukan neuropati belum diketahui dengan pemeriksaan lengkap, juga untuk mengkonfirmasi vaskulitis, lepra, dan polineuropati demielinasi inflamasi kronik Biopsi sumsum tulang, survei tulang bila ada kecurigaan myeloma
    • Tes darah spesifik untuk kecurigaan kondisi tertentu, misalnya analisis DNA untuk neu-ropati herediter, enzim sel darah putih untuk inborn error of metabolism, antibodi Borrelia untuk penyakit Lyme

    4. Sindrom pada Taut Neuromuskular dan Otot6
    4.1. Miastenia
    Kelelahan abnormal pada otot-otot rangka merupakan manifestasi utama gangguan taut neuromuskular. Kelemahan yang bergantung-latihan awalnya sering mengenai; otot-otot ekstraokular, menimbulkan ptosis atau diplopia, karena unit motorik otot-otot tersebut hanya mengandung sedikit serabut otot. Pasien dengan miastenia generalisata juga mengalami disfagia dan kelemahan otot rangka yang timbul setelah melakukan latihan, terutama pada bagian proksimal. Penyebab sindrom miastenik tersering adalah miastenia gravis (istilah sebelumnya: miastenia gravis pseudopara- litika), suatu penyakit autoimun ketika tubuh membentuk antibodi terhadap reseptor asetilkolin di motor end plate. Reseptor yang tersisa untuk transmisi sinyal yang adekuat terlalu sedikit, sehingga otot tidak lagi tereksitasi secara adekuat oleh saraf yang mempersarafinya. Elektromiografi menunjukkan penurunan ukuran (“decrement”) potensial aksi otot pada stimulasi elektrik berulang pada otot yang terkena.
    Diagnosis miastenia gravis ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis yang khas, penurunan elektromiografi, adanya antibodi terhadap reseptor asetilkolin di sirkulasi, dan perbaikan kelemahan setelah pemberian penghambat asetilkolinesterase kerja cepat, seperti edrofonium klorida7. Gangguan ini dapat diobati secara efektif dengan penghambat asetilkolinesterase kerja-panjang, supresi imun, dan sebagai tambahan, dengan timektomi (pada pasien muda).
    4.2. Miopati
    Kebalikan dengan miastenia, miopati (gangguan primer otot) biasanya menimbulkan kelemahan dengan progresivitas lambat dan tidak bergantung latihan. Atrofi otot aki-bat miopati lebih ringan dibandingkan atrofi otot neurogenik dan sebagian disamarkan oleh pergantian jaringan otot oleh lemak (liposis, disebut juga lipomatosis), sehingga terdapat ketidaksesuaian antara penampakan otot yang normal atau pseudohipertofik dan derajat kelemahan sesungguhnya. Tidak ada defisit sensorik atau otonom, atau fasikulasi, yang menunjukkan lesi neurogenik. Mialgia dan spasme otot lebih sering terjadi pada miopati metabolik dibandingkan pada miopati kongenital.
    Berbagai jenis miopati meliputi distrofi muskular (resesif terkait-X, autosomal dorninan, dan resesif), miopati metabolik, distrofi miotonik (dengan manifestasi tambahan seperti katarak, kebotakan di bagian frontal, dan abnormalitas sistemik lain, seperti pada distrofi Steinert-Batten-Curschmann), dan miositis. adekuat terlalu sedikit, sehingga otot tidak lagi tereksitasi secara adekuat oleh saraf yang mempersaraflnya. Elektromiografi menunjukkan penurunan ukuran (“decre¬ment”) potensial aksi otot pada stimulasi elektrik berulang pada otot yang terkena. Diagnosis miastenia gravis ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis yang khas, penurunan elektromiografi, adanya antibodi terhadap reseptor asetilkolin di sirkulasi, dan perbaikan kelemahan setelah pemberian penghambat asetilkolinesterase kerja-cepat, seperti edrofonium klorida. Gangguan ini dapat diobati secara efektif dengan penghambat asetilkolinesterase kerja-panjang, supresi imun, dan sebagai tambahan, dengan timektomi (pada pasien muda).
    Informasi terpenting untuk diagnosis banding miopati didapatkan dari riwayat keluarga secara rinci, pemeriksaan klinis, pemeriksaan laboratorium (terutama kreatin kinase), dan elektromiografi, serta analisis genetik molekular, yang telah menjadi pemeriksaan yang sangat canggih dalam beberapa tahun terakhir dan dapat memberikan diagnosis pasti pada banyak kasus. Akibatnya, hal ini memungkinkan prognosis yang lebih sesuai dan konseling genetik yang baik.
    Kaitan dengan pemicu
    Gejala yang dialami pasien pada pemicu, yakni berupa paralisis flaksid secara umum dapat ditemukan pada lesi LMN dan NMJ. Kejadian yang hanya 3 hari (akut) umumnya ditemukan pada polineuropati dan NMJ. Walaupun gejala teraparesis umumnya ditemukan pada lesi UMN, namun juga khas ditemukan pada polineuropati, yaitu sindrom Guillain-Barre, dan biasanya menjalar asendens. Oleh karena itu, masih perlu dilakukan analisis cairan serebrospinal. Pada pasien paralasis flasid juga sering disertai dengan ketidakmapuan mempertahankan jalan nafas tetap terbuka, karena paralisis otot-otot pernapasan dan diafragma. Oleh karena itu, diperlukan intubasi secepat mungkin terutama pada penyakit yang onsetnya progresif, seperti sindrom Guillain-Barre.





    Masyarakat Belum Melestarikan Kekayaan Hayati

    22 06 2009

    Selasa, 26 Mei 2009 | 17:06 WIB

    - Indonesia memiliki berjuta kekayaan hayati. Namun sayang, kesadaran masyarakat Indonesia untuk melestarikan Kekayaan hayati yang ada masih sangat kurang.

    Demikian dikatakan Damayanti Buchari, Direktur Yayasan Kehati, usai konfrensi pers Kehati Award, Selasa ( 26/5 ).

    “Banyak kerusakan yang terjadi pada kekayaan hayati. Selain itu, Para penegak hukum juga belum menjalankan peraturan yang ada, namun pelaku perusakan kekayaan hayati tetap saja bisa lepas,” sesal Damayanti.

    Jika hal tersebut berlanjut, Damayanti mengkhawatirkan kekayaan hayati yang ada akan segera punah dan generasi penerus tidak lagi dapat menikmatinya.

    “Selain itu, jika kerusakan hayati terus berlanjut alam Indonesia juga akan rusak. Dan untuk memperbaikinya butuh waktu yang sangat lama” tambahnya.

    Selanjutnya dia menerangkan kekayaan hayati sangat penting dijaga, karena bukan hanya milik Indonesia. “Kekayaan hayati anugerah yang harus dijaga, semua negara berhak juga atas kekayaan hayati yang ada di Indonesia,” kata Damayanti.

    Sumber: KOMPAS.com





    1 04 2009

    me





    khutbah

    30 03 2009

    Bismillahirrahmanirahim..
    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
    Mari kita merenung sejenak dengan keadaan bangsa kita tercinta ini. Pencurian dan
    perampokan yang tak hentihentinya,
    kasuskasus
    korupsi para pejabat kita yang selalu saja
    terjadi dan tidak tahu kapan habisnya. Bahkan untuk kesekian kalinya negara Republik
    Indonesia yang tercinta ini mendapat peringkat 3 di Asia Tenggara dalam bidang korupsi.
    Pergaulan bebas antara remaja, perzinaan, pembunuhan, bahkan yang barubaru
    saja
    terungkap yaitu pembunuhan calon bayi atau janin yang lebih kita kenal dengan aborsi masih
    merajalela sampai saat ini. Bahkan data terakhir pada tahun 2007 dikatakan bahwa aborsi di
    Indonesia memiliki jumlah kasus terbesar di Asia Tenggara. Hari demi hari kita dengar
    berbagai macam kasuskasus
    kriminalitas yang terungkap di negeri kita ini, bahkan mungkin
    terjadi di lingkungan kita sendiri. Pergaulan bebas antar remaja yang berujung pada aborsi,
    kecanduan obatobatan
    terlarang yang berakhir pada kematian, pembunuhan antar anggota
    keluarga, itu semua sudah menjadi sarapan harian di media massa.Na’udzubillahimin
    dzalik..
    Lalu, apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita hanya cukup berdiam diri? Atau
    kita justru menyalahkan orang lain sebagai penyebab kerusakan dan berbagai tindakan
    mungkar itu?
    Untuk menjawab pertanyaan tersebut, khatib akan menyampaikan khutbah yang berjudul:
    MENEGAKKAN AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR
    Kaum Muslimin yang dirahmati Allah.
    Sesuai dengan judul khotbah tadi, kita mesti tahu terlebih dahulu apa itu amar ma’ruf
    nahi mungkar?
    Lukmanul hafiz
    Dalam tafsir AlMishbah
    dikatakan bahwa kata ( ) berarti sesuatu yang
    baik menurut pandangan umum suatu masyarakat selama sejalan dengan AlQur’an
    dan
    Sunnah. Sedangakan kata ( ) adalah sesuatu yang dinilai buruk oelh suatu masyarakat
    serta bertentangan dengan nilainilai
    Ilahi.
    Jadi, amar ma’ruf nahi mungkar berarti memerintahkan orang kepada ma’ruf, agar
    berbuat kebajikan, berbuat sesuatu yang diridhoi Allah SWT, dan melarang orang melakukan
    yang mungkar, berbuat kejahatan, kemaksiatan atau sesuatu yang mendatangkan murka
    Allah yang sangat mungkin juga akan berimbas pada orang lain.
    Sebagaimana Allah berfirman dalam surah AtTaubah
    ayat 71 , yang khatib bacakan tadi,
    yang artinya: “Dan orangorang
    yang beriman, lakilaki
    dan perempuan, sebagian mereka menjadi
    penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, mencegah dari yang
    mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan taat kepada Allah dan RasulNya.
    Mereka akan
    diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
    Pada ayat ini, Allah SWT mengatakan bahwa orangorang
    yang beriman itu salah
    satunya ialah menyuruh berbuat ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, baik lakilaki
    maupun perempuan, tanpa terkecuali.
    Nah, yang menjadi tanda tanya di benak kita adalah, mengapa menyuruh berbuat yang
    ma’ruf dan melarang dari yang mungkar itu dijadikan tolak ukur oleh Allah akan keimanan
    seseorang? Dan seberapa pentingkah menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di bumi Allah
    ini?
    Kaum Muslimin Rahimakumullah…
    Untuk menjawab pertanyaan tadi, mari kita tilik kembali apa sebenarnya tujuan dari
    penciptaan manusia sebagai hamba Allah di muka bumi ini. Pada dasarnya, ada tiga amanah
    yang kita emban di muka bumi ini, yaitu:
    Lukmanul hafiz
    1. beribadah kepada Allah,
    2. sebagai khalifah di muka bumi ini,
    3. dan untuk menghuni dan memakmurkan bumi ini.
    Namun, saudarasaudaraku,,,
    seperti yang kita lihat bahwa tidak semua manusia yang
    menjalankan amanah tadi dengan baik. Dengan banyaknya kerusakan demi kerusakan,
    kemungkaran demi kemungkaran yang meraja lela tanpa henti, di sinilah peran kita sebagai
    seorang hamba Allah, penghuni serta khalifah di bumi ini untuk menegakkan kebenaran
    yang hakiki, dan melawan segala bentuk kemungkarankemungkaran
    yang bertentangan
    dengan hukum Allah SWT.
    Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah…
    Ini adalah fitrah kita sebagai orang yang beriman kepada Allah SWT dan RasulNya,
    dan ini adalah kewajiban bagi setiap pribadi mukmin, tiada kecuali. Yakni untuk
    menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Bahkan Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya
    yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, AtTirmidzi,
    dan Ibnu Majah, yang berbunyi,
    yang artinya: ”Siapapun di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan
    tangan/kekuasaannya, bila ia tidak mampu(tidak memiliki kekuasaan), maka dengan lisannya, dan bila
    (yang ini pun) ia tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemahlemahnya
    iman.”
    Dari hadits ini, jelas kita dituntut untuk beramar ma’ruf dan nahi mungkar sesuai
    Lukmanul hafiz
    dengan kemampuan yang kita miliki. Ketika kita mampu memberantas kemungkaran dengan
    tangan kita, lisan kita atau minimal hati kita harus ingkar dengan kemungkaran yang terjadi
    dan berdoa mohon kepada Allah SWT. Bentuk perlawanan yag berupa ingkar di hati
    terhadap kemungkaran ini dinyatakan oleh Nabi SAW sebagai indikasi atas lemahnya iman.
    Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.
    Saudarasaudaraku
    yang dirahmati Allah.
    Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di
    bumi Allah ini? Di antaranya adalah:
    1. mulailah dari diri kita sendiri dan orangorang
    yang terdekat dengan kita. Mengapa?
    Karena Allah SWT berfirman dalam surah AtTahrim
    ayat 6 yang berbunyi,
    yang artinya:”Hai orangorang
    yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
    neraka.”
    2. mulailah menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar saat ini. Mengapa? Karena jika
    tidak, adzab Allah akan menimpa siapa saja di suatu tempat di mana amar ma’ruf nahi
    mungkar tidak ditegakkan, dan juga dapat menimpa orangorang
    yang baik.
    Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam surah AlAnfal
    ayat 25. hali inilah yang terus
    diperjuangkan oleh Pemerintah Daerah kita berupa pemberantasan Penyakit
    Masyarakat dan berbagai tindakan Maksiat di negeri kita tercinta ini.
    3. sampaikanlah kebenaran sesuai dengan kemampuan si penerimanya. Maksudnya, jika
    kita berhadapan dengan seorang yang berpendidikan dengan orang yang sama sekali
    tidak paham akan ilmu pengetahuan, maka sampaikanlah kebenaran itu sesuai
    Lukmanul hafiz
    dengan bahasa mereka, tingkat pemahaman mereka. Karena sesungguhnya Rasulullah
    SAW menyampaikan dakwahnya sesuai dengan pemahaman para pendengarnya. Hal
    itu juga berarti bahwa dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar juga seiring
    dengan perkembangan teknologi seperti sekarang ini. Kita bisa menggunakan internet
    misalnya dalam berdakwah, sehingga kita dapat menyentuh hati seluruh ummat di
    mana saja, siapa saja dengan apapun keberagaman yang mereka miliki masingmasing.
    Kaum Musimin yang dirahmati Allah.
    Di akhir khutbah ini, kita dapat menyimpulkan bahwa menegakkan amar ma’ruf nahi
    mungkar adalah fitrah kita sebagai orang yang beriman. Selain itu ini merupakan kewajiban
    bila kita tidak ingin adzab Allah menimpa kita, bahkan orangorang
    yang baikpun juga bisa
    terkena. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 104, yang
    berbunyi:
    yang artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan,
    menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orangorang
    yang beruntung.”
    Marilah kita menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dari diri kita sendiri, keluarga terdekat,
    dan mulailah saat ini.
    fa’tabiru yaa ulil abshar la’allakum tattaquun…
    Lukmanul hafiz
    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
    Marilah kita tilik kembali tentang apaapa
    saja yang terjadi di negeri kita ini. Kerusuhan antar
    agama yang memakan banyak korban, pengeboman massal yang menimbulkan banyak
    kerusakan. Kita bisa sebut Bom Bali 1 dan 2 yang menewaskan 184 orang, Bom Hotel JW
    Marriot, dan pengeboman lainnya. Kemudian, mari kita lihat di negeri lain, terjadi runtuhnya
    gedung WTC di Amerika Serikat yang memakan 300 korban. Terorisme yang menjadijadi
    dengan berkedok Islam, banyak pihak bahkan mengatakan Islam adalah terorisme.
    Na’udzubillaahi min dzaalik. Apakah itu yang disebut dengan Islam? Jelas tidak. Islam
    sangat menjunjung tinggi toleransi antar ummat beragama. Lantas, bagaimana toleransi yang
    dijunjung oleh Islam itu?
    Oleh karena itu, pada Jum’at kali ini, khatib akan menyampaikan khutbah yang berjudul:
    “PRINSIP TOLERANSI DALAM ISLAM SEBAGAI AGAMA RAHMATAN LIL ‘ALAMIN”
    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
    Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 64, yang khatib bacakan tadi,
    yang artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu
    kalimat(pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan
    kita tidak menjadikan satu sama lain tuhantuhan
    selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah
    (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim.”
    M. Quraish Shihab mengatakan dalam Tafsir AlMishbah
    bahwa ayat ini diturunkan
    Lukmanul hafiz
    sebagai bukti sedemikian besar kesungguhan Nabi Muhammad SAW agar orangorang
    Yahudi dan Nasrani menerima ajaran Islam. Kalimat terakhir dalam ayat ini bermakna bahwa
    “Kalau kalian berpaling dan menolak ajaran ini, maka akuilah bahwa kami adalah orangorang
    muslim, yang akan melaksanakan secara teguh apa yang kami percayai. Pengakuan
    kalian akan keberadaan kami sebagai muslim walau
    kepercayaan kita berbedamenuntut
    kalian untuk membiarkan kami melaksanakan tuntunan agama kami. Karena kami pun sejak
    dini telah mengakui keberadaan kalian tanpa kami percaya apa yang kalian percayai. Namun
    demikian kami mempersilahkan kalian melaksanakan agama dan kepercayaan kalian.”
    Nah, dalam ayat ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa ajaran Islam itu memebrikan
    toleransi yang tinggi kepada penganut agama lain, tanpa mengikuti dan membenarkan ajaran
    mereka. Sebagai ummat Islam yang mayoritas di negeri ini, menjadi keharusan bagi kita
    untuk membina dan mewujudkan masyarakat yang rukun, damai, dan toleran, termasuk
    dengan para penganut agama lain. Karena itu, ada 5 prinsip kehidupan masyarakat Islam
    terhadap masyarakat penganut agama lain.
    Pertama, prinsip perbedaan agama tanpa permusuhan.
    Betapa banyak dan sering kita dengar serta saksikan, perang atau bentrok antar agama yang
    akibatnya banyak korban berjatuhan, rumahrumah
    hancur, serta rumah ibadah ambruk,
    salah satunya yang dirasakan oleh saudarasaudara
    kita di Palestina. Berjutajuta
    nyawa
    hilang, anakanak
    bahkan bayi dan balita telah merasakan kejamnya peperangan. Hal ini
    tidak saja terjadi di Palestina, tapi ini juga pernah terjadi di negara kita tercinta ini. Ingatkah
    kita akan peristiwa kerusuhan di Poso? Beriburibu
    saudarasaudara
    kita jadi korban. Apakah
    ini yang diajarkan oleh Islam? Tidak. Islam sangat menyunjung perdamaian.
    Namun, untuk menciptakan kedamaian, bukan berarti Islam setuju dengan pernyataan
    bahwa “semua agama itu sama”. Ini sama sekali bukan hal yang dapat dibenarkan. Bila
    seseorang memilih agama Islam, hal itu tertolak di hadapan Allah SWT. Karena Allah SWT
    Lukmanul hafiz
    berfirman dalam surah Ali Imran ayat 85, yang berbunyi:
    yang artinya: “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat
    dia termasuk orang yang rugi.”
    Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
    Prinsip kedua, Ummat Islam tidak pernah mencela konsep agama lain.
    Kita tidak dibenarkan menghina sesembahan selain Allah dan konsep agama yang dianut
    oleh orang yang tidak seagama dengan kita, walaupun kita wajib menanamkan bahwa yang
    dilakukan oleh mereka adalah salah. Karena Allah SWT berfirman dalam surah AlKafirun
    ayat 15,
    yang berbunyi,
    yang artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai orangorang
    kafir! Aku tidak akan meyembah apa
    yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah (pula)
    menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa
    yang aku sembah. ”
    Lukmanul hafiz
    Kaum Muslimin rahimakumullah……
    Prinsip ketiga, tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam.
    Bila manusia telah memilih suatu agama berdasarkan keyakinannya, maka meskipun kita
    sangat ingin agar ia masuk Islam, tetap saja kita tidak dibenarkan untuk memaksanya masuk
    Islam. Allah SWT berfirman dalam surah AlBaqarah
    ayat 256 yang berbunyi,
    yang artinya: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas
    (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat.”
    Ketika seseorang sudah masuk Islam, untuk melaksanakan ajaran Islam sebenarnya bukan
    dipaksa, tetapi harus disiplin dalam berIslam. Untuk bisa disiplin terkadang terasa ada unsur
    pemaksaan. Padahal, itu hanyalah konsekuensi bagi kita sebagai hamba Allah.
    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
    Prinsip keempat, memberikan hak beribadah kepada agama lain.
    Masingmasing
    penganut agama harus menjalankan peribadatan menurut kepercayaannya
    masingmasing.
    Namun demikian, tidak pernah Islam menganjurkan untuk mencampur
    adukkan ibadah dengan penganut agama lain. Hal itu sangat dilarang dalam Islam.
    Allah SWT berfirman dalam surah AlKafirun
    ayat 6 yang berbunyi,
    Lukmanul hafiz
    yang artinya: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
    Dan prinsip terakhir adalah, tetap menegakkan prinsip keadilan.
    Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, hubungan antar ummat beragama dengan sukunya
    yang beragam harus berlangsung sebaik mungkin. Oleh karena itu, keadilan sangat
    ditekankan kepada setiap ummat, terutama kaum Muslimin, agar ketidaksukaan kita kepada
    penganut agama atau suku lain jangan sampai membuat kita tidak berlaku adil. Karena
    keadilan merupakan perkara yang amat dituntut pelaksanaannya di dalam Islam. Baik
    kepada sesama Muslim, ataupun yang berbeda agama dengan kita. Rasulullah SAW bersabda
    dalam haditsnya riwayat Bukhari,
    “Selama matahari masih terbit, orang yang mendamaikan dua orang (yang bersengketa)
    dengan adil adalah sedekah”
    Hadits ini berlaku kepada siapapun orang yang kita damaikan. Bahkan Rsulullah SAW
    pernah mengadili orang Yahudi dan orang mukmin. Ketika terbukti yang mukminlah yang
    bersalah, maka Rasulullah SAW tetap berlaku adil terhadapnya. Rasul SAW berikan keadilan
    kepada si Yahudi tadi. Sebaliknya, Rasulullah SAW juga pernah berkata,” Sekiranya Fatimah
    binti Muhammad yang mencuri, akan kupotong tangannya.”
    Para hadirin sidang Jum’at rahimakumullah.
    Dari khutbah ini dapat kita simpulkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi toleransi dalam
    beragama. Islam menghargai perbedaan antar agama, tidak pernah mencela ajaran agama
    lain, tidak memaksa penganut agama lain untuk masuk Islam, dan senantiasa berlaku adil
    kepada seluruh ummat, termasuk yang berbeda agama. Namun, ummat Islam tetap
    Lukmanul hafiz
    berpegang teguh dengan satusatunya
    ajaran yang diridhai Allah ini, yakni Islam. Hal inilah
    yang menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin. Sehingga tidak ada permusuhan,
    pertikaian dan perselisihan antar ummat beragama.
    fa’tabiruu yaa ulil abshor la’allakum tattquun…
    Lukmanul hafiz
    Pada Jum’at kali ini, khatib akan menyampaikan khutbah yang berjudul:
    KEMBALI MEMAKMURKAN mesjid
    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
    Mesjid. Tentu kita semua kenal dengan yang namanya mesjid. Bahkan kata mesjid itu sering
    kali diidentikkan kepada ummat Muslim. Namun, apakah benar kita telah tahu sepenuhnya
    dengan mesjid itu sendiri?
    Allah SWT berfirman dalam surah AtTaubah
    ayat 18,yang khatib bacakan tadi:
    yang artinya: “ Sesungguhnya yang memakmurkan mesjid Allah hanyalah orangorang
    yang beriman
    kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut
    (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudahmudahan
    mereka termasuk orangorang
    yang
    mendapat petunjuk.”
    Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa memakmurkan mesjid Allah adalah suatu bagian
    dari ciriciri
    orang yang beriman. Nah, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah Apakah
    kita telah memakmurkan mesjidmesjid
    Allah? Betapa pentingkah kita memakmurkan mesjid
    Allah itu?
    Kaum Muslimin yang dirahmati Allah.
    Untuk menjawab pertanyaan tadi, kita harus tahu terlebih dahulu apa sebenarnya
    fungsi mesjid Allah itu? Mari kita belajar dari sejarah Rasulullah. Pernahkah kita bertanya
    mangapa bangunan yang pertama kali didirkan oleh Rasulullah SAW adalh mesjid? Mengapa
    bukan tempat penginapan? Pusat perbelanjaan? Atau gedunggedung
    lainnya? Karena mesjid
    di zaman Rasulullah mempunyai banyak fungsi, selain tempat ibadah. Di mesjid, Rasulullah
    SAW mendengar keluhankeluhan
    serta curhatan para sahabat. Lewat mesjid, Rasulullah
    Lukmanul hafiz
    membangun kultur masyarakat baru yang lebih dinamis dan cerdas. Intinya dari mesjid awal
    cahaya Islam menyebar ke seluruh cakrawala dunia.
    Inilah fungsi mesjid di zaman Rasulullah SAW,
    Pertama, Sebagai tempat beribadah.
    Sesuai dengan namanya mesjid adalah tempat sujud, maka fungsi utamanya adalah sebagai
    tempat ibadah shalat. Sebagaimana diketahui bahwa makna ibadah di dalam Islam adalah
    luas menyangkut segala aktivitas kehidupan yang ditujukan untuk memperoleh ridha Allah,
    maka fungsi mesjid disamping sebagai tempat shalat juga sebagai tempat beribadah secara
    luas sesuai dengan ajaran Islam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam surah
    yang artinya: “Dan sesungguhnya mesjidmesjid
    itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu
    menyembah apapun di dalamnya selain Allah.”
    Ma’asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah.
    Fungsi mesjid kedua adalah sebagai tempat menuntut ilmu.
    mesjid berfungsi sebagai tempat untuk belajar mengajar, khususnya ilmu agama yang
    merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam. Disamping itu juga ilmuilmu
    lain, baik ilmu alam,
    sosial, humaniora, keterampilan dan lain sebagainya dapat diajarkan di mesjid.
    Selanjunya yang ketiga adalah sebagai tempat pembinaan jama’ah.
    Dengan adanya umat Islam di sekitarnya, mesjid berperan dalam mengkoordinir mereka
    guna menyatukan potensi dan kepemimpinan umat. Selanjutnya umat yang terkoordinir
    secara rapi dalam organisasi mesjid dibina keimanan, ketaqwaan, ukhuwah dan da’wah
    islamiyahnya. Sehingga mesjid menjadi basis umat Islam yang kokoh.
    Lukmanul hafiz
    Saudarasaudaraku
    yang dimuliakan Allah.
    Fungsi yang keempat adalah sebagai pusat da’wah dan kebudayaan Islam.
    mesjid merupakan jantung kehidupan umat Islam yang selalu berdenyut untuk
    menyebarluaskan da’wah islamiyah dan budaya islami. Di mesjid pula direncanakan,
    diorganisasi, dikaji, dilaksanakan dan dikembangkan da’wah dan kebudayaan Islam yang
    menyahuti kebutuhan masyarakat. Karena itu mesjid, berperan sebagai sentra aktivitas
    da’wah dan kebudayaan.
    Dan yang terakhir yakni sebagai pusat kaderisasi umat.
    Sebagai tempat pembinaan jama’ah dan kepemimpinan umat, mesjid memerlukan aktivis
    yang berjuang menegakkan Islam secara istiqamah dan berkesinambungan. Patah tumbuh
    hilang berganti. Karena itu pembinaan kader perlu dipersiapkan dan dipusatkan di mesjid
    sejak mereka masih kecil sampai dewasa. Di antaranya dengan Taman Pendidikan Al Qur’an
    (TPA), Remaja mesjid maupun majelis ta’lim beserta kegiatannya.
    Begitulah mesjid dipergunakan di zaman Rasulullah SAW, maka wajar jika kebangkitan Islam
    dapat diraih. Karena para pejuang Islam ditempa, dibina, dan dikembangkan di mesjid.
    Namun, saudarasaudaraku
    seiman dan seIslam.
    Jika kita lihat keadaan masjid kita hari ini, masjidmasjid
    hanya ramai ketika saat tertentu,
    seperti Shalat Jum’at, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, dan awalawal
    bulan Ramadhan.
    Selain waktuwaktu
    itu mesjid sunyi bagaikan tidak mempuntai ruh lagi. Kebanyakan yang
    mengisi mesjidmesjid
    hari ini adalah orangorang
    yang sudah berusia lanjut, sedangkan kita
    para generasi muda lebih senang ke tempattempat
    hiburan, tempatmaksiat,
    warung
    internet, dibanding ke mesjid. Maka pantas saja generasi hari ini sungguh sulit untuk
    Lukmanul hafiz
    diandalkan. Banyak kejahatankejahatan
    yang dilakukan oleh generasi muda, mengkonsumsi
    obatobatan
    terlarang, pergaulan bebas, itu semua akibat betapa jauhnya kita dengan rumah
    Allah, mesjid. Kita lebih senang berbondongbondong
    ke tempat konser untuk bernyanyi,
    daripada berdzikir di mesjid Allah. Na’udzubillahi min dzaalik.
    Kaum Muslimin Rahimakumullah.
    Inilah saatnya kita kembali ke memakmurkan mesjid. Mari kita ciptakan generasi yang
    berkualitas dari mesjid. Mari kita persiapkan para pemimpin masa depan dari mesjid. Salah
    satunya dengan mendukung program Pemerintah Daerah yakni Back to Surau, Baliak ka
    Surau. Dengan diadakannya pesantren Ramadhan, wirid remaja, dan programprogram
    lainnya, yang bertujuan untuk mendekatkan kita ke rumah Allah yang mulia ini.
    Kaum Muslimin rahimakumullah.
    Dari khutbah ini dapat kita simpulkan bahwa memakmurkan mesjid adalah identitas kita
    sebagai orang yang beriman kepada Allah SWT.
    Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat atTirmidzi
    dari Abu Sa’id alKhudri
    “Apabila kamu sekalian melihat seseorang terbiasa ke mesjid, maka saksikanlah bahwa ia benarbenar
    beriman.”
    Oleh karena itu, marilah kita kembalikan fungsi mesjid seperti di zaman Rasulullah SAW.
    Semoga, Allah menjadikan kita generasi yang dekat kepada mesjid, generasi yang dicintai
    Allah dan RasulNya. Amin.
    fa’tabiruu yaa ulil abshor la’allakum tattquun…
    Lukmanul hafiz





    Ku tak bisa tlah berharap

    30 03 2009

    Ku tak bisa pungkiri…
    ya,,,
    rasa ini…
    ku tak bisa melupakannya….
    atau dia yang tak bisa luput dariku???

    ku tak bisa mengerti…
    ya,,,
    rasa ini….
    ku tak bisa menambahkannya….
    atau dia yang tak bisa mengganda???

    ku tlah berusaha…
    namun,,,
    ku tak merasa apa-apa…
    ku tak tahu apa itu dia…
    ku harap Dia menolongku…
    aku butuh pertolonganNya….








    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.