khutbah

30 03 2009

Bismillahirrahmanirahim..
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Mari kita merenung sejenak dengan keadaan bangsa kita tercinta ini. Pencurian dan
perampokan yang tak hentihentinya,
kasuskasus
korupsi para pejabat kita yang selalu saja
terjadi dan tidak tahu kapan habisnya. Bahkan untuk kesekian kalinya negara Republik
Indonesia yang tercinta ini mendapat peringkat 3 di Asia Tenggara dalam bidang korupsi.
Pergaulan bebas antara remaja, perzinaan, pembunuhan, bahkan yang barubaru
saja
terungkap yaitu pembunuhan calon bayi atau janin yang lebih kita kenal dengan aborsi masih
merajalela sampai saat ini. Bahkan data terakhir pada tahun 2007 dikatakan bahwa aborsi di
Indonesia memiliki jumlah kasus terbesar di Asia Tenggara. Hari demi hari kita dengar
berbagai macam kasuskasus
kriminalitas yang terungkap di negeri kita ini, bahkan mungkin
terjadi di lingkungan kita sendiri. Pergaulan bebas antar remaja yang berujung pada aborsi,
kecanduan obatobatan
terlarang yang berakhir pada kematian, pembunuhan antar anggota
keluarga, itu semua sudah menjadi sarapan harian di media massa.Na’udzubillahimin
dzalik..
Lalu, apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita hanya cukup berdiam diri? Atau
kita justru menyalahkan orang lain sebagai penyebab kerusakan dan berbagai tindakan
mungkar itu?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, khatib akan menyampaikan khutbah yang berjudul:
MENEGAKKAN AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah.
Sesuai dengan judul khotbah tadi, kita mesti tahu terlebih dahulu apa itu amar ma’ruf
nahi mungkar?
Lukmanul hafiz
Dalam tafsir AlMishbah
dikatakan bahwa kata ( ) berarti sesuatu yang
baik menurut pandangan umum suatu masyarakat selama sejalan dengan AlQur’an
dan
Sunnah. Sedangakan kata ( ) adalah sesuatu yang dinilai buruk oelh suatu masyarakat
serta bertentangan dengan nilainilai
Ilahi.
Jadi, amar ma’ruf nahi mungkar berarti memerintahkan orang kepada ma’ruf, agar
berbuat kebajikan, berbuat sesuatu yang diridhoi Allah SWT, dan melarang orang melakukan
yang mungkar, berbuat kejahatan, kemaksiatan atau sesuatu yang mendatangkan murka
Allah yang sangat mungkin juga akan berimbas pada orang lain.
Sebagaimana Allah berfirman dalam surah AtTaubah
ayat 71 , yang khatib bacakan tadi,
yang artinya: “Dan orangorang
yang beriman, lakilaki
dan perempuan, sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, mencegah dari yang
mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan taat kepada Allah dan RasulNya.
Mereka akan
diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
Pada ayat ini, Allah SWT mengatakan bahwa orangorang
yang beriman itu salah
satunya ialah menyuruh berbuat ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, baik lakilaki
maupun perempuan, tanpa terkecuali.
Nah, yang menjadi tanda tanya di benak kita adalah, mengapa menyuruh berbuat yang
ma’ruf dan melarang dari yang mungkar itu dijadikan tolak ukur oleh Allah akan keimanan
seseorang? Dan seberapa pentingkah menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di bumi Allah
ini?
Kaum Muslimin Rahimakumullah…
Untuk menjawab pertanyaan tadi, mari kita tilik kembali apa sebenarnya tujuan dari
penciptaan manusia sebagai hamba Allah di muka bumi ini. Pada dasarnya, ada tiga amanah
yang kita emban di muka bumi ini, yaitu:
Lukmanul hafiz
1. beribadah kepada Allah,
2. sebagai khalifah di muka bumi ini,
3. dan untuk menghuni dan memakmurkan bumi ini.
Namun, saudarasaudaraku,,,
seperti yang kita lihat bahwa tidak semua manusia yang
menjalankan amanah tadi dengan baik. Dengan banyaknya kerusakan demi kerusakan,
kemungkaran demi kemungkaran yang meraja lela tanpa henti, di sinilah peran kita sebagai
seorang hamba Allah, penghuni serta khalifah di bumi ini untuk menegakkan kebenaran
yang hakiki, dan melawan segala bentuk kemungkarankemungkaran
yang bertentangan
dengan hukum Allah SWT.
Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah…
Ini adalah fitrah kita sebagai orang yang beriman kepada Allah SWT dan RasulNya,
dan ini adalah kewajiban bagi setiap pribadi mukmin, tiada kecuali. Yakni untuk
menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Bahkan Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, AtTirmidzi,
dan Ibnu Majah, yang berbunyi,
yang artinya: ”Siapapun di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan
tangan/kekuasaannya, bila ia tidak mampu(tidak memiliki kekuasaan), maka dengan lisannya, dan bila
(yang ini pun) ia tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemahlemahnya
iman.”
Dari hadits ini, jelas kita dituntut untuk beramar ma’ruf dan nahi mungkar sesuai
Lukmanul hafiz
dengan kemampuan yang kita miliki. Ketika kita mampu memberantas kemungkaran dengan
tangan kita, lisan kita atau minimal hati kita harus ingkar dengan kemungkaran yang terjadi
dan berdoa mohon kepada Allah SWT. Bentuk perlawanan yag berupa ingkar di hati
terhadap kemungkaran ini dinyatakan oleh Nabi SAW sebagai indikasi atas lemahnya iman.
Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah.
Saudarasaudaraku
yang dirahmati Allah.
Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di
bumi Allah ini? Di antaranya adalah:
1. mulailah dari diri kita sendiri dan orangorang
yang terdekat dengan kita. Mengapa?
Karena Allah SWT berfirman dalam surah AtTahrim
ayat 6 yang berbunyi,
yang artinya:”Hai orangorang
yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka.”
2. mulailah menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar saat ini. Mengapa? Karena jika
tidak, adzab Allah akan menimpa siapa saja di suatu tempat di mana amar ma’ruf nahi
mungkar tidak ditegakkan, dan juga dapat menimpa orangorang
yang baik.
Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam surah AlAnfal
ayat 25. hali inilah yang terus
diperjuangkan oleh Pemerintah Daerah kita berupa pemberantasan Penyakit
Masyarakat dan berbagai tindakan Maksiat di negeri kita tercinta ini.
3. sampaikanlah kebenaran sesuai dengan kemampuan si penerimanya. Maksudnya, jika
kita berhadapan dengan seorang yang berpendidikan dengan orang yang sama sekali
tidak paham akan ilmu pengetahuan, maka sampaikanlah kebenaran itu sesuai
Lukmanul hafiz
dengan bahasa mereka, tingkat pemahaman mereka. Karena sesungguhnya Rasulullah
SAW menyampaikan dakwahnya sesuai dengan pemahaman para pendengarnya. Hal
itu juga berarti bahwa dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar juga seiring
dengan perkembangan teknologi seperti sekarang ini. Kita bisa menggunakan internet
misalnya dalam berdakwah, sehingga kita dapat menyentuh hati seluruh ummat di
mana saja, siapa saja dengan apapun keberagaman yang mereka miliki masingmasing.
Kaum Musimin yang dirahmati Allah.
Di akhir khutbah ini, kita dapat menyimpulkan bahwa menegakkan amar ma’ruf nahi
mungkar adalah fitrah kita sebagai orang yang beriman. Selain itu ini merupakan kewajiban
bila kita tidak ingin adzab Allah menimpa kita, bahkan orangorang
yang baikpun juga bisa
terkena. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 104, yang
berbunyi:
yang artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orangorang
yang beruntung.”
Marilah kita menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dari diri kita sendiri, keluarga terdekat,
dan mulailah saat ini.
fa’tabiru yaa ulil abshar la’allakum tattaquun…
Lukmanul hafiz
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Marilah kita tilik kembali tentang apaapa
saja yang terjadi di negeri kita ini. Kerusuhan antar
agama yang memakan banyak korban, pengeboman massal yang menimbulkan banyak
kerusakan. Kita bisa sebut Bom Bali 1 dan 2 yang menewaskan 184 orang, Bom Hotel JW
Marriot, dan pengeboman lainnya. Kemudian, mari kita lihat di negeri lain, terjadi runtuhnya
gedung WTC di Amerika Serikat yang memakan 300 korban. Terorisme yang menjadijadi
dengan berkedok Islam, banyak pihak bahkan mengatakan Islam adalah terorisme.
Na’udzubillaahi min dzaalik. Apakah itu yang disebut dengan Islam? Jelas tidak. Islam
sangat menjunjung tinggi toleransi antar ummat beragama. Lantas, bagaimana toleransi yang
dijunjung oleh Islam itu?
Oleh karena itu, pada Jum’at kali ini, khatib akan menyampaikan khutbah yang berjudul:
“PRINSIP TOLERANSI DALAM ISLAM SEBAGAI AGAMA RAHMATAN LIL ‘ALAMIN”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran ayat 64, yang khatib bacakan tadi,
yang artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu
kalimat(pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan
kita tidak menjadikan satu sama lain tuhantuhan
selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah
(kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim.”
M. Quraish Shihab mengatakan dalam Tafsir AlMishbah
bahwa ayat ini diturunkan
Lukmanul hafiz
sebagai bukti sedemikian besar kesungguhan Nabi Muhammad SAW agar orangorang
Yahudi dan Nasrani menerima ajaran Islam. Kalimat terakhir dalam ayat ini bermakna bahwa
“Kalau kalian berpaling dan menolak ajaran ini, maka akuilah bahwa kami adalah orangorang
muslim, yang akan melaksanakan secara teguh apa yang kami percayai. Pengakuan
kalian akan keberadaan kami sebagai muslim walau
kepercayaan kita berbedamenuntut
kalian untuk membiarkan kami melaksanakan tuntunan agama kami. Karena kami pun sejak
dini telah mengakui keberadaan kalian tanpa kami percaya apa yang kalian percayai. Namun
demikian kami mempersilahkan kalian melaksanakan agama dan kepercayaan kalian.”
Nah, dalam ayat ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa ajaran Islam itu memebrikan
toleransi yang tinggi kepada penganut agama lain, tanpa mengikuti dan membenarkan ajaran
mereka. Sebagai ummat Islam yang mayoritas di negeri ini, menjadi keharusan bagi kita
untuk membina dan mewujudkan masyarakat yang rukun, damai, dan toleran, termasuk
dengan para penganut agama lain. Karena itu, ada 5 prinsip kehidupan masyarakat Islam
terhadap masyarakat penganut agama lain.
Pertama, prinsip perbedaan agama tanpa permusuhan.
Betapa banyak dan sering kita dengar serta saksikan, perang atau bentrok antar agama yang
akibatnya banyak korban berjatuhan, rumahrumah
hancur, serta rumah ibadah ambruk,
salah satunya yang dirasakan oleh saudarasaudara
kita di Palestina. Berjutajuta
nyawa
hilang, anakanak
bahkan bayi dan balita telah merasakan kejamnya peperangan. Hal ini
tidak saja terjadi di Palestina, tapi ini juga pernah terjadi di negara kita tercinta ini. Ingatkah
kita akan peristiwa kerusuhan di Poso? Beriburibu
saudarasaudara
kita jadi korban. Apakah
ini yang diajarkan oleh Islam? Tidak. Islam sangat menyunjung perdamaian.
Namun, untuk menciptakan kedamaian, bukan berarti Islam setuju dengan pernyataan
bahwa “semua agama itu sama”. Ini sama sekali bukan hal yang dapat dibenarkan. Bila
seseorang memilih agama Islam, hal itu tertolak di hadapan Allah SWT. Karena Allah SWT
Lukmanul hafiz
berfirman dalam surah Ali Imran ayat 85, yang berbunyi:
yang artinya: “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat
dia termasuk orang yang rugi.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Prinsip kedua, Ummat Islam tidak pernah mencela konsep agama lain.
Kita tidak dibenarkan menghina sesembahan selain Allah dan konsep agama yang dianut
oleh orang yang tidak seagama dengan kita, walaupun kita wajib menanamkan bahwa yang
dilakukan oleh mereka adalah salah. Karena Allah SWT berfirman dalam surah AlKafirun
ayat 15,
yang berbunyi,
yang artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai orangorang
kafir! Aku tidak akan meyembah apa
yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah (pula)
menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa
yang aku sembah. ”
Lukmanul hafiz
Kaum Muslimin rahimakumullah……
Prinsip ketiga, tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam.
Bila manusia telah memilih suatu agama berdasarkan keyakinannya, maka meskipun kita
sangat ingin agar ia masuk Islam, tetap saja kita tidak dibenarkan untuk memaksanya masuk
Islam. Allah SWT berfirman dalam surah AlBaqarah
ayat 256 yang berbunyi,
yang artinya: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas
(perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat.”
Ketika seseorang sudah masuk Islam, untuk melaksanakan ajaran Islam sebenarnya bukan
dipaksa, tetapi harus disiplin dalam berIslam. Untuk bisa disiplin terkadang terasa ada unsur
pemaksaan. Padahal, itu hanyalah konsekuensi bagi kita sebagai hamba Allah.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Prinsip keempat, memberikan hak beribadah kepada agama lain.
Masingmasing
penganut agama harus menjalankan peribadatan menurut kepercayaannya
masingmasing.
Namun demikian, tidak pernah Islam menganjurkan untuk mencampur
adukkan ibadah dengan penganut agama lain. Hal itu sangat dilarang dalam Islam.
Allah SWT berfirman dalam surah AlKafirun
ayat 6 yang berbunyi,
Lukmanul hafiz
yang artinya: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
Dan prinsip terakhir adalah, tetap menegakkan prinsip keadilan.
Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, hubungan antar ummat beragama dengan sukunya
yang beragam harus berlangsung sebaik mungkin. Oleh karena itu, keadilan sangat
ditekankan kepada setiap ummat, terutama kaum Muslimin, agar ketidaksukaan kita kepada
penganut agama atau suku lain jangan sampai membuat kita tidak berlaku adil. Karena
keadilan merupakan perkara yang amat dituntut pelaksanaannya di dalam Islam. Baik
kepada sesama Muslim, ataupun yang berbeda agama dengan kita. Rasulullah SAW bersabda
dalam haditsnya riwayat Bukhari,
“Selama matahari masih terbit, orang yang mendamaikan dua orang (yang bersengketa)
dengan adil adalah sedekah”
Hadits ini berlaku kepada siapapun orang yang kita damaikan. Bahkan Rsulullah SAW
pernah mengadili orang Yahudi dan orang mukmin. Ketika terbukti yang mukminlah yang
bersalah, maka Rasulullah SAW tetap berlaku adil terhadapnya. Rasul SAW berikan keadilan
kepada si Yahudi tadi. Sebaliknya, Rasulullah SAW juga pernah berkata,” Sekiranya Fatimah
binti Muhammad yang mencuri, akan kupotong tangannya.”
Para hadirin sidang Jum’at rahimakumullah.
Dari khutbah ini dapat kita simpulkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi toleransi dalam
beragama. Islam menghargai perbedaan antar agama, tidak pernah mencela ajaran agama
lain, tidak memaksa penganut agama lain untuk masuk Islam, dan senantiasa berlaku adil
kepada seluruh ummat, termasuk yang berbeda agama. Namun, ummat Islam tetap
Lukmanul hafiz
berpegang teguh dengan satusatunya
ajaran yang diridhai Allah ini, yakni Islam. Hal inilah
yang menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin. Sehingga tidak ada permusuhan,
pertikaian dan perselisihan antar ummat beragama.
fa’tabiruu yaa ulil abshor la’allakum tattquun…
Lukmanul hafiz
Pada Jum’at kali ini, khatib akan menyampaikan khutbah yang berjudul:
KEMBALI MEMAKMURKAN mesjid
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Mesjid. Tentu kita semua kenal dengan yang namanya mesjid. Bahkan kata mesjid itu sering
kali diidentikkan kepada ummat Muslim. Namun, apakah benar kita telah tahu sepenuhnya
dengan mesjid itu sendiri?
Allah SWT berfirman dalam surah AtTaubah
ayat 18,yang khatib bacakan tadi:
yang artinya: “ Sesungguhnya yang memakmurkan mesjid Allah hanyalah orangorang
yang beriman
kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut
(kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudahmudahan
mereka termasuk orangorang
yang
mendapat petunjuk.”
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa memakmurkan mesjid Allah adalah suatu bagian
dari ciriciri
orang yang beriman. Nah, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah Apakah
kita telah memakmurkan mesjidmesjid
Allah? Betapa pentingkah kita memakmurkan mesjid
Allah itu?
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah.
Untuk menjawab pertanyaan tadi, kita harus tahu terlebih dahulu apa sebenarnya
fungsi mesjid Allah itu? Mari kita belajar dari sejarah Rasulullah. Pernahkah kita bertanya
mangapa bangunan yang pertama kali didirkan oleh Rasulullah SAW adalh mesjid? Mengapa
bukan tempat penginapan? Pusat perbelanjaan? Atau gedunggedung
lainnya? Karena mesjid
di zaman Rasulullah mempunyai banyak fungsi, selain tempat ibadah. Di mesjid, Rasulullah
SAW mendengar keluhankeluhan
serta curhatan para sahabat. Lewat mesjid, Rasulullah
Lukmanul hafiz
membangun kultur masyarakat baru yang lebih dinamis dan cerdas. Intinya dari mesjid awal
cahaya Islam menyebar ke seluruh cakrawala dunia.
Inilah fungsi mesjid di zaman Rasulullah SAW,
Pertama, Sebagai tempat beribadah.
Sesuai dengan namanya mesjid adalah tempat sujud, maka fungsi utamanya adalah sebagai
tempat ibadah shalat. Sebagaimana diketahui bahwa makna ibadah di dalam Islam adalah
luas menyangkut segala aktivitas kehidupan yang ditujukan untuk memperoleh ridha Allah,
maka fungsi mesjid disamping sebagai tempat shalat juga sebagai tempat beribadah secara
luas sesuai dengan ajaran Islam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam surah
yang artinya: “Dan sesungguhnya mesjidmesjid
itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu
menyembah apapun di dalamnya selain Allah.”
Ma’asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah.
Fungsi mesjid kedua adalah sebagai tempat menuntut ilmu.
mesjid berfungsi sebagai tempat untuk belajar mengajar, khususnya ilmu agama yang
merupakan fardlu ‘ain bagi umat Islam. Disamping itu juga ilmuilmu
lain, baik ilmu alam,
sosial, humaniora, keterampilan dan lain sebagainya dapat diajarkan di mesjid.
Selanjunya yang ketiga adalah sebagai tempat pembinaan jama’ah.
Dengan adanya umat Islam di sekitarnya, mesjid berperan dalam mengkoordinir mereka
guna menyatukan potensi dan kepemimpinan umat. Selanjutnya umat yang terkoordinir
secara rapi dalam organisasi mesjid dibina keimanan, ketaqwaan, ukhuwah dan da’wah
islamiyahnya. Sehingga mesjid menjadi basis umat Islam yang kokoh.
Lukmanul hafiz
Saudarasaudaraku
yang dimuliakan Allah.
Fungsi yang keempat adalah sebagai pusat da’wah dan kebudayaan Islam.
mesjid merupakan jantung kehidupan umat Islam yang selalu berdenyut untuk
menyebarluaskan da’wah islamiyah dan budaya islami. Di mesjid pula direncanakan,
diorganisasi, dikaji, dilaksanakan dan dikembangkan da’wah dan kebudayaan Islam yang
menyahuti kebutuhan masyarakat. Karena itu mesjid, berperan sebagai sentra aktivitas
da’wah dan kebudayaan.
Dan yang terakhir yakni sebagai pusat kaderisasi umat.
Sebagai tempat pembinaan jama’ah dan kepemimpinan umat, mesjid memerlukan aktivis
yang berjuang menegakkan Islam secara istiqamah dan berkesinambungan. Patah tumbuh
hilang berganti. Karena itu pembinaan kader perlu dipersiapkan dan dipusatkan di mesjid
sejak mereka masih kecil sampai dewasa. Di antaranya dengan Taman Pendidikan Al Qur’an
(TPA), Remaja mesjid maupun majelis ta’lim beserta kegiatannya.
Begitulah mesjid dipergunakan di zaman Rasulullah SAW, maka wajar jika kebangkitan Islam
dapat diraih. Karena para pejuang Islam ditempa, dibina, dan dikembangkan di mesjid.
Namun, saudarasaudaraku
seiman dan seIslam.
Jika kita lihat keadaan masjid kita hari ini, masjidmasjid
hanya ramai ketika saat tertentu,
seperti Shalat Jum’at, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, dan awalawal
bulan Ramadhan.
Selain waktuwaktu
itu mesjid sunyi bagaikan tidak mempuntai ruh lagi. Kebanyakan yang
mengisi mesjidmesjid
hari ini adalah orangorang
yang sudah berusia lanjut, sedangkan kita
para generasi muda lebih senang ke tempattempat
hiburan, tempatmaksiat,
warung
internet, dibanding ke mesjid. Maka pantas saja generasi hari ini sungguh sulit untuk
Lukmanul hafiz
diandalkan. Banyak kejahatankejahatan
yang dilakukan oleh generasi muda, mengkonsumsi
obatobatan
terlarang, pergaulan bebas, itu semua akibat betapa jauhnya kita dengan rumah
Allah, mesjid. Kita lebih senang berbondongbondong
ke tempat konser untuk bernyanyi,
daripada berdzikir di mesjid Allah. Na’udzubillahi min dzaalik.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Inilah saatnya kita kembali ke memakmurkan mesjid. Mari kita ciptakan generasi yang
berkualitas dari mesjid. Mari kita persiapkan para pemimpin masa depan dari mesjid. Salah
satunya dengan mendukung program Pemerintah Daerah yakni Back to Surau, Baliak ka
Surau. Dengan diadakannya pesantren Ramadhan, wirid remaja, dan programprogram
lainnya, yang bertujuan untuk mendekatkan kita ke rumah Allah yang mulia ini.
Kaum Muslimin rahimakumullah.
Dari khutbah ini dapat kita simpulkan bahwa memakmurkan mesjid adalah identitas kita
sebagai orang yang beriman kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat atTirmidzi
dari Abu Sa’id alKhudri
“Apabila kamu sekalian melihat seseorang terbiasa ke mesjid, maka saksikanlah bahwa ia benarbenar
beriman.”
Oleh karena itu, marilah kita kembalikan fungsi mesjid seperti di zaman Rasulullah SAW.
Semoga, Allah menjadikan kita generasi yang dekat kepada mesjid, generasi yang dicintai
Allah dan RasulNya. Amin.
fa’tabiruu yaa ulil abshor la’allakum tattquun…
Lukmanul hafiz


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: